FAKTANASIONAL.NET – Tekanan terhadap mata uang Garuda kian memuncak. Nilai tukar Rupiah tercatat menembus level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis siang (23/4/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah bertengger di posisi Rp17.310 per Dolar AS, melemah 0,74 persen dari perdagangan sebelumnya.
Angka ini menandai titik terendah baru sejak krisis moneter, yang dipicu oleh kombinasi ketidakpastian ekonomi global dan memanasnya situasi geopolitik dunia.
Pemicu Tekanan Global
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kondisi ini tidak dialami oleh Indonesia sendirian.
Mata uang di kawasan regional juga mengalami tekanan serupa akibat dinamika pasar global yang tidak menentu.
“Tekanan terhadap Rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujar Destry Damayanti dalam keterangannya, Kamis (23/4).
Destry menambahkan bahwa jika dilihat secara year-to-date, pelemahan Rupiah tercatat sebesar 3,54 persen, sebuah pergerakan yang dinilai masih sejalan dengan tren mata uang negara-negara tetangga.
Strategi Stabilisasi Bank Indonesia
Guna meredam fluktuasi yang terlalu tajam, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter.
BI mengandalkan cadangan devisa yang masih tergolong solid untuk melakukan intervensi di pasar.











