JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Pelatihan untuk Pelatih/Training of Trainer kepada perwakilan perempuan dari 38 provinsi, sekaligus peluncuran aplikasi dan _jingle_ Perempuan Penggerak Akar Rumput di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto meminta para peserta untuk mencermati perjalanan hidup dan belajar dari keyakinan ideologis yang dipegang teguh oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
“Keyakinan menciptakan keteguhan, keberanian dan kesabaran yang akan melahirkan kebenaran. Itulah selayaknya yang menjadi energi penggerak. Ini menjadi inspirasi bagi semua termasuk untuk perempuan,” kata Hasto.

Sejumlah pengurus DPP hadir dalam acara tersebut seperti: Djarot Saiful Hidayat, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Sri Rahayu, Ribka Tjiptaning dan Sadarestuwati.
Lebih lanjut, Sekjen Hasto pun menyampaikan perspektif historis yang sangat penting bahwa pada 25 Juni 1933 di Bandung, kalangan perempuan menyatakan diri untuk menyatukan dengan gerakan pembebasan rakyat Marhaen. Mereka menyebut dirinya sebagai Marhaeni. Gerakan ini oleh Bung Karno dijadikan tesis dalam merumuskan adanya sebagaimana dijelaskan di buku Sarinah.
Fase pertama, kalangan perempuan memperkuat kapasitas diri dalam struktur yang bersifat patriarki. Mereka menempatkan fungsinya pada tugas rumah tangga.
Fase kedua, perjuangan emansipasi, kesetaraan, tentang pentingnya kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan.
Fase ketiga, ketika kaum perempuan dan laki-laki berjuang bersama-sama untuk melawan atau setidaknya mengoreksi sistem kapitalisme dengan falsafah pembebasan rakyat Marhaen.
“PDI Perjuangan menempatkan gerakan perempuan pada fase ketiga,” tegas Hasto.
Dilanjutkannya, perempuan penggerak akar rumput juga punya tugas bagaimana membangun kedaulatan pangan untuk menyediakan makanan yang bergizi bagi rakyat.











