DI ruang PICU Rumah Sakit Umum Haji Medan, lampu neon putih menyala tanpa belas kasihan. Di atas ranjang dingin, KM, siswi 18 tahun dari SMA Negeri 1 Berastagi, masih terbaring. Matanya sesekali terbuka, tetapi tatapannya kosong. Beberapa hari lalu, kesadarannya sempat tenggelam hingga tingkat apatis. Perutnya panas sampai ulu hati, tenggorokannya sesak, sistem sarafnya seperti memberontak.
Tiga dokter spesialis bergantian menjaga napasnya. Ayahnya hanya bisa menangis. Dalam video yang viral, suaranya pecah ketika bercerita, putrinya tak lagi bisa diajak bicara. Rasa panas merayap dari perut ke dada, seolah tubuh anaknya sedang dilahap api dari dalam.
Sementara ratusan teman sekolahnya sudah pulang. Sebagian kembali duduk di bangku sekolah, membuka buku, tertawa kecil, mencoba melupakan Kamis, 13 Agustus 2026, hari ketika gatal-gatal, muntah, dan kepanikan massal terjadi setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat 361 murid diduga keracunan. Sebanyak 270 sempat menjalani rawat inap dan 89 rawat jalan.
Sebagian sudah pulang. Sebagian sudah kembali sekolah. Tetapi KM belum. Ia masih di PICU. Di sinilah ironi terasa seperti pisau ditancapkan pelan-pelan ke dada.
Di tempat lain, di bawah lampu karnaval yang terang, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono berdiri dengan wajah penuh kebanggaan. Ia menyerahkan omprengan MBG kepada Presiden Prabowo.
Kamera menyorot. Tepuk tangan bergemuruh. Senyum mengembang. Seolah-olah tidak pernah ada ratusan anak bergelimpangan di IGD beberapa hari sebelumnya. Seolah-olah tidak ada ibu yang menangis. Seolah-olah tidak ada KM yang masih berjuang membuka mata.
Salah satu ibu itu bernama Fitriani br Sijabat. Putrinya, Agnesia, juga menjadi korban. Di Rumah Sakit Efarina Etaham, Fitriani menangis di hadapan Sudaryono.
“Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya, agar kami tahu cara mengobatinya?”
Lalu kalimat yang lebih menyayat. “Aku tidak mau salah obat. Nanti rusak ginjalnya. Siapa lagi yang bertanggung jawab?”
Sudaryono berlutut. Menangis. Meminta maaf.
Tetapi beberapa hari kemudian, di malam karnaval, senyum kembali menghiasi wajah ketika omprengan MBG diserahkan dengan penuh kebanggaan.










