Launching Buku Islam Ala Prabowo Bikin Gunung Api Indonesia Tertawa hingga Batuk-batuk

Launching Buku Islam Ala Prabowo Bikin Gunung Api Indonesia Tertawa hingga Batuk-batuk/foto: Ilustrasi AI)

PADA waktunya politik Indonesia begitu serius sampai-sampai alam seperti ikut ingin tertawa.

Bukan karena gunung api punya hak pilih. Bukan pula karena magma memiliki preferensi politik.

Tetapi sangat kebetulan bersamaan setelah buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi bahan perbincangan, sementara sejumlah gunung api Indonesia pada waktu yang hampir bersamaan menunjukkan aktivitas erupsi, publik tentu saja punya bahan untuk membuat humor.

Gunung tidak bisa tertawa. Tetapi kalau bisa, mungkin ia akan berkata: “Saya ini sudah panas dari dalam, jangan ditambah panas oleh politik.”

Buku tersebut sebenarnya bukan barang baru. Buku Islam Ala Prabowo telah diluncurkan pada 26 Agustus 2025 dalam pembukaan Rakornas Baznas 2025 di Jakarta. Buku itu ditulis Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.

Yang membuat persoalan menjadi menarik bukan sekadar judulnya. Belakangan muncul perdebatan mengenai sejumlah nama yang disebut terlibat dalam buku tersebut.

Salah satunya adalah TGB Muhammad Zainul Majdi. Namanya tercantum sebagai penulis sebuah tulisan dalam buku. Namun TGB menyatakan dirinya tidak pernah mengirim tulisan.

Nama Gus Kautsar juga ikut menjadi sorotan. Pihak keluarga menyampaikan bahwa ia tidak pernah menulis bagian yang mencantumkan namanya dan tidak pernah memberikan izin pencantuman tersebut.

Di sinilah cerita berubah dari sekadar buku menjadi pertanyaan jurnalistik.

Sebab dalam dunia kepenulisan, nama bukan dekorasi.

Nama adalah tanggung jawab.

Kalau seseorang benar-benar menulis, ia punya hak sekaligus kewajiban mempertanggungjawabkan tulisannya.

Tetapi jika seseorang merasa tidak pernah menulis, sementara namanya muncul sebagai kontributor, tentu publik berhak bertanya: siapa yang menulis, siapa yang mengirim, dan siapa yang memberikan persetujuan?

Pertanyaan sederhana. Tetapi kadang pertanyaan sederhana justru paling sulit dijawab dalam dunia yang terlalu gemar membuat sesuatu menjadi rumit.

Dan ketika perdebatan itu berlangsung, langit Indonesia memberikan “komentar” dengan caranya sendiri.

Sejumlah gunung api menunjukkan aktivitas erupsi. Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian.

Aktivitas vulkaniknya meningkat dan erupsi menghasilkan abu vulkanik yang berdampak terhadap sejumlah wilayah serta penerbangan.

Pada saat yang sama, gunung api lain seperti Semeru, Ibu, dan Ili Lewotolok juga dilaporkan mengalami erupsi.

Apakah gunung-gunung itu sedang bereaksi terhadap buku Islam Ala Prabowo?

Tentu saja tidak.

Jangan sampai nanti ada rapat kabinet diadakan di kawah gunung untuk mencari tahu siapa yang menyuruh magma naik.

Secara ilmiah, erupsi gunung api berkaitan dengan proses geologi dan aktivitas magma.

Tidak ada dasar untuk menghubungkan erupsi dengan peluncuran buku, polemik politik, apalagi judul buku.

Tetapi sebagai bahan isu liar media, kebetulan waktunya memang terlalu menggoda.

Bayangkan saja jika gunung api memiliki media sosial.

Anak Krakatau mungkin mengunggah:

“Maaf, saya batuk bukan karena membaca bukunya.”

Semeru mungkin menimpali:

“Jangan bawa-bawa nama saya ke politik.”

Gunung Ibu mungkin lebih singkat:

“Saya erupsi. Bukan beropini.”

Dan gunung-gunung lain mungkin memilih diam, karena mereka tahu satu hal penting: manusia sudah cukup panas tanpa bantuan mereka.

Humor semacam ini justru diperlukan untuk melihat politik dari jarak yang sehat.

Sebab agama adalah perkara serius. Politik juga serius. Kekuasaan terlebih lagi serius.

Tetapi ketika agama dan politik berada dalam satu panggung, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk bertanya tanpa harus kehilangan kewarasan.

Judul Islam Ala Prabowo tentu dapat dibaca sebagai upaya menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan diamalkan dalam kehidupan Prabowo. Itu wilayah yang sah untuk dibahas, sepanjang argumentasi dan sumbernya jelas.

Namun persoalan menjadi sensitif ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan.

Mengapa?