SETIAP insan, barangkali, memiliki satu nama yang tidak lagi disebut, tetapi diam-diam masih tersimpan di sudut paling sunyi dalam ingatan.
Ia mungkin bukan orang yang terakhir dicintai. Bahkan mungkin bukan pula orang yang paling lama menemani perjalanan hidup.
Namun ketika seseorang ditanya tentang cinta pertama, ada jeda yang sering kali lebih jujur daripada sebuah jawaban.
Sebab cinta pertama bukan sekadar tentang siapa yang pernah menggenggam tangan kita untuk pertama kalinya.
Ia adalah tentang masa ketika hati belajar mengenal sesuatu yang sebelumnya belum pernah dipahaminya: rindu, cemas, bahagia, kecewa, cemburu, dan kehilangan.
Di situlah cinta pertama menjadi istimewa.
Bukan karena ia selalu berakhir indah, melainkan karena ia datang ketika hati masih polos dalam menafsirkan perasaan.
Pada masa itu, sebuah pesan sederhana bisa membuat seseorang tersenyum sepanjang hari. Sebuah tatapan dapat diterjemahkan menjadi harapan.
Sebuah pertemuan yang berlangsung singkat mampu menjadi bahan pikiran berhari-hari.
Dunia terasa lebih luas, tetapi sekaligus lebih kecil, karena seolah-olah hanya ada dua manusia yang paling penting di dalamnya.
Kita sering mengira cinta pertama akan menjadi cinta terakhir.
Itulah kepolosan yang membuatnya indah.
Kita belum memahami bahwa manusia bisa berubah. Bahwa jarak dapat memisahkan.
Bahwa waktu memiliki cara sendiri untuk mengubah perasaan. Bahwa seseorang yang hari ini terasa seperti rumah, suatu hari bisa menjadi alamat yang tidak lagi kita datangi.
Namun hidup tidak pernah berjanji bahwa semua yang kita cintai harus tinggal.
Ada orang-orang yang memang hadir bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan sesuatu.
Cinta pertama mengajarkan bahwa bahagia tidak selalu berarti memiliki. Ia juga mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti gagal.
Kadang-kadang, seseorang pergi justru agar kita belajar menemukan diri sendiri setelah sekian lama mendefinisikan kebahagiaan melalui keberadaan orang lain.
Di titik itulah kedewasaan dimulai.
Kita mulai mengerti bahwa mencintai seseorang tidak sama dengan berhak memilikinya. Bahwa perasaan yang tulus tidak selalu menghasilkan akhir yang kita inginkan.
Dan bahwa dua orang yang saling mencintai pun terkadang tetap harus berjalan ke arah yang berbeda.
Barangkali inilah alasan mengapa cinta pertama sulit dilupakan.
Bukan karena kita selalu ingin kembali kepadanya, tetapi karena sebagian dari diri kita pernah tumbuh bersamanya.
Ada versi diri kita yang hanya dikenal oleh orang itu. Versi yang mungkin masih naif, mudah percaya, mudah berharap, dan berani bermimpi tanpa banyak perhitungan.
Ketika mengingat cinta pertama, sesungguhnya kita tidak hanya mengingat seseorang.
Kita sedang mengingat diri kita sendiri.
Mengingat bagaimana dahulu kita menunggu sebuah pesan. Mengingat bagaimana jantung berdegup lebih cepat ketika namanya muncul.











