Setiap Insan Pasti Teringat Cinta Pertamanya

Setiap Insan Pasti Teringat Cinta Pertamanya/ilustrasi

Mengingat percakapan-percakapan kecil yang dahulu terasa penting. Mengingat jalan yang pernah dilalui bersama. Bahkan mengingat perpisahan yang saat itu terasa seperti akhir dari seluruh dunia.

Padahal dunia tetap berputar.

Pagi tetap datang. Matahari tetap terbit. Kehidupan terus bergerak, meskipun hati pernah merasa berhenti.

Waktu kemudian membawa kita kepada cinta-cinta berikutnya. Ada yang lebih dewasa, lebih tenang, lebih masuk akal. Ada yang datang bukan dengan debaran, melainkan dengan kepastian.

Ada yang tidak membuat kita kehilangan tidur karena rindu, tetapi membuat kita merasa aman karena tahu ke mana harus pulang.

Di sana kita menemukan perbedaan antara jatuh cinta dan mencintai.

Jatuh cinta mungkin membuat seseorang kehilangan logika. Tetapi mencintai membutuhkan kesadaran.

Cinta pertama mungkin mengajarkan bagaimana hati berdebar. Cinta setelahnya mengajarkan bagaimana hati bertahan.

Karena itu, tidak adil jika cinta pertama selalu dibandingkan dengan cinta yang datang kemudian. Keduanya lahir dari manusia yang berbeda, pada usia yang berbeda, dengan pemahaman yang berbeda pula.

Kita yang mencintai untuk pertama kalinya bukanlah kita yang sama setelah melewati berbagai kehilangan.

Pengalaman mengubah cara seseorang mencintai.

Luka mengajarkan kehati-hatian. Perpisahan mengajarkan keikhlasan. Kesalahan mengajarkan batas.

Dan waktu mengajarkan bahwa tidak semua yang hilang harus dicari kembali.

Ada kalanya kita bertemu kembali dengan cinta pertama setelah bertahun-tahun berlalu. Mungkin di sebuah tempat yang tidak direncanakan.

Mungkin melalui media sosial. Mungkin hanya mendengar namanya disebut oleh seorang teman.

Aneh, bukan?

Seseorang yang dahulu mampu membuat hati berantakan, kini mungkin hanya membuat kita tersenyum kecil.

Bukan karena perasaan itu tidak pernah ada.

Melainkan karena kita sudah berdamai dengannya.

Pada akhirnya, cinta pertama tidak harus kembali menjadi cinta terakhir. Ia cukup menjadi bagian dari sejarah yang membuat kita memahami arti mencintai.

Ia boleh tinggal sebagai kenangan tanpa harus menjadi keinginan.

Sebab ada manusia yang paling indah justru ketika dikenang dari kejauhan. Bukan untuk dikejar kembali, melainkan untuk disyukuri karena pernah hadir.

Setiap insan pasti teringat cinta pertamanya.

Mungkin tidak setiap hari. Mungkin tidak setiap malam. Tetapi pada suatu waktu—ketika hujan turun tanpa janji, ketika sebuah lagu lama terdengar dari kejauhan, atau ketika kita melewati tempat yang pernah menjadi saksi—nama itu bisa kembali mengetuk pintu ingatan.

Dan kita tersenyum.

Bukan karena ingin kembali.

Melainkan karena akhirnya kita mengerti: pernah mencintai seseorang dengan begitu tulus adalah salah satu cara paling manusiawi untuk mengetahui bahwa hati kita pernah benar-benar hidup.[dit]