Fakta Nasional

Apakah TBC Menular? Kenali Risiko dan Cara Mencegah Penularannya

FAKTANASIONAL.NET - Tuberkulosis atau TBC masih menjadi penyakit infeksi yang perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru.  Namun, infeksi tersebut juga dapat memengar…

Penulis: Aditya 📍 Indonesia Thursday, 05 November 2026 📖 2 menit
Apakah TBC Menular? Kenali Risiko dan Cara Mencegah Penularannya
Apakah TBC Menular? Kenali Risiko dan Cara Mencegah Penularannya/(Foto: ilustrasi/shutterstock)

FAKTANASIONAL.NET - Tuberkulosis atau TBC masih menjadi penyakit infeksi yang perlu diwaspadai. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru. 

Namun, infeksi tersebut juga dapat memengaruhi bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, hingga selaput otak.

Pertanyaan mengenai apakah TBC menular masih sering muncul, terutama ketika seseorang atau anggota keluarganya didiagnosis mengalami penyakit tersebut. 

Faktanya, TBC memang dapat menular, tetapi tidak semua jenisnya bisa menyebar kepada orang lain.

Risiko penularan bergantung pada jenis infeksi, lokasi bakteri berkembang, serta kondisi penyakit yang dialami penderita.

Dilansir dari Alodokter, penularan TBC terutama terjadi ketika seseorang mengalami TBC aktif pada paru-paru atau saluran pernapasan. Bakteri dapat menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Risikonya meningkat apabila seseorang berada dekat dengan penderita dalam waktu lama. Kondisi tersebut lebih berisiko ketika terjadi di ruangan tertutup dengan ventilasi yang buruk, misalnya saat tinggal bersama dalam satu rumah.

Meski demikian, TBC tidak menyebar melalui aktivitas sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, atau menggunakan toilet yang sama.

Berbeda dengan TBC aktif, penderita TBC laten umumnya tidak mengalami gejala dan tidak dapat menularkan bakteri kepada orang lain. Pada kondisi ini, bakteri berada di dalam tubuh, tetapi belum menyebabkan penyakit aktif.

Risiko penularan TBC aktif biasanya mulai menurun setelah sekitar dua minggu menjalani pengobatan secara tepat dan teratur. 

Namun, penderita TBC resistan obat, termasuk TBC MDR (multidrug-resistant tuberculosis), dapat memiliki risiko penularan lebih lama, bahkan sekitar 2–4 bulan setelah pengobatan dimulai.

Pencegahan perlu dilakukan oleh penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Beberapa langkah penting yang dapat diterapkan meliputi:

1. Menuntaskan pengobatan. Penderita TBC sensitif obat umumnya memerlukan pengobatan minimal enam bulan. Sementara itu, TBC resistan obat dapat membutuhkan waktu lebih lama.

2. Menggunakan masker. Pemakaian masker perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan, terutama selama penderita masih berisiko menularkan bakteri.

3. Memperbaiki ventilasi rumah. Membuka pintu dan jendela membantu sirkulasi udara serta pergantian udara di dalam ruangan.

4. Menerapkan etika batuk. Tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam ketika batuk maupun bersin.

5. Melakukan pemeriksaan. Orang yang memiliki kontak erat dengan penderita, terutama keluarga serumah, sebaiknya berkonsultasi mengenai pemeriksaan TBC.

6. Memberikan dukungan keluarga. Pendampingan diperlukan agar penderita dapat menjalani pengobatan sampai tuntas.

Apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih, terutama disertai demam berkepanjangan, keringat malam, batuk berdarah, nyeri dada, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas, segera periksakan diri ke dokter.

Memahami penularan TBC membantu masyarakat melindungi kesehatan bersama tanpa mengucilkan penderita. 

Pengobatan yang teratur dan dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam mengendalikan penyebaran penyakit ini.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK