CBA Ungkap Keanehan Laba Sarana Jaya, Uchok Sky: Dirut Bernard Yohanes Wajib Dievaluasi
Sangat Aneh! Laporan laba pada 2025 naik, padahal pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan.
FAKTANASIONAL.NET – Center for Budget Analysis (CBA) menyoroti kinerja keuangan Perumda Pembangunan Sarana Jaya yang mencatatkan kenaikan laba pada 2025, meskipun pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menyebut Sarana Jaya membukukan keuntungan sebesar Rp45,3 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat sekitar Rp11,1 miliar dibandingkan laba 2024 yang tercatat sebesar Rp34,2 miliar.
Menurut Uchok, kondisi tersebut perlu mendapat penjelasan dari manajemen. Sebab, berdasarkan data yang disampaikan CBA, pendapatan Sarana Jaya pada 2024 mencapai Rp343,2 miliar, sedangkan pada 2025 turun menjadi Rp308,2 miliar.
"Ini sangat aneh. Meskipun pendapatan tahun 2024 lebih besar daripada tahun 2025, tetapi Pembangunan Sarana Jaya bisa meraih untung besar," kata Uchok.
CBA juga menyoroti akumulasi laba perusahaan selama dua tahun terakhir yang dinilai belum mampu menutup kerugian pada 2023. Sarana Jaya tercatat memperoleh laba Rp34,2 miliar pada 2024 dan Rp45,3 miliar pada 2025. Jika digabungkan, totalnya mencapai Rp79,5 miliar.
Sementara itu, kerugian perusahaan pada 2023 mencapai Rp82,9 miliar. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan tersebut, masih terdapat selisih kerugian sekitar Rp3,4 miliar yang belum tertutup oleh laba dua tahun berikutnya.
Atas kondisi tersebut, Uchok meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengevaluasi kinerja Direktur Utama Sarana Jaya, Bernard Yohanes. Evaluasi dinilai penting untuk memastikan pengelolaan perusahaan daerah berjalan lebih baik dan berkelanjutan.
"Direktur Utama Bernard Yohanes harus dievaluasi kinerjanya selama memimpin Pembangunan Sarana Jaya agar kinerjanya bisa meningkat terus sampai satu hari sebelum kiamat," tegas Uchok.
Di sisi lain, kinerja keuangan Sarana Jaya juga perlu dilihat dalam konteks dinamika pergantian direksi yang terjadi dalam beberapa periode terakhir. Peralihan kepemimpinan tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperjelas, terutama terkait kesinambungan kebijakan, strategi bisnis, dan pengelolaan keuangan perusahaan.
Karena itu, penjelasan Bernard Yohanes diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai faktor yang menyebabkan laba meningkat ketika pendapatan menurun. Manajemen juga perlu menjelaskan strategi pemulihan keuangan perusahaan, termasuk langkah untuk menutup kerugian tahun-tahun sebelumnya.
CBA turut mengingatkan Pemprov DKI Jakarta agar tidak mengabaikan persoalan kinerja keuangan BUMD. Uchok mencontohkan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yang menurutnya mengalami kerugian selama tiga tahun berturut-turut.
"CBA berharap kasus Pembangunan Sarana Jaya jangan seperti PT Jakarta Propertindo, tiga tahun berturut-turut terus merugi, tetapi dianggap sebuah prestasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," tutup Uchok.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.