Peralihan Musim, BNPB Laporkan Karhutla di Sumatra dan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia Timur
FAKTANASIONAL.NET - Di Pulau Sumatra, eskalasi titik api terpantau meningkat di Provinsi Aceh dan Riau. Di Kabupaten Aceh Barat, karhutla menghanguskan sedikitnya 13 hektare lahan yang tersebar di Kecamatan Bubon dan Johan Pahlawan. Tim gabungan mas…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Di Pulau Sumatra, eskalasi titik api terpantau meningkat di Provinsi Aceh dan Riau. Di Kabupaten Aceh Barat, karhutla menghanguskan sedikitnya 13 hektare lahan yang tersebar di Kecamatan Bubon dan Johan Pahlawan.
Tim gabungan masih mengupayakan pemadaman di Kecamatan Bubon di tengah kendala angin kencang dan asap tebal, sementara area di Johan Pahlawan dipastikan telah padam total.
Karhutla juga melanda Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah dengan luasan masing-masing satu hektare, namun seluruh titik api di kedua wilayah tersebut sudah berhasil dikendalikan oleh petugas setempat.
Sementara itu, Provinsi Riau yang menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan mencatat total akumulasi luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 1 Juni 2026 telah mencapai 15.031,58 hektare berdasarkan data Sipongi. Penambahan luasan baru terdeteksi di Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Siak.
Baca Juga: Kepala BNPB: Penanggulangan Bencana di Indonesia Butuh Kolaborasi Lintas Sektor
Longsor dan Banjir Bandang di Sulawesi dan Gorontalo
Kontras dengan kondisi di wilayah barat, intensitas hujan yang masih tinggi memicu bencana longsor dan banjir di kawasan Indonesia bagian timur.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, hujan deras memicu tanah longsor yang menimbun akses jalan utama menuju Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase. Akibatnya, pemukiman tersebut sempat terisolasi. Berdasarkan data kaji cepat sementara BPBD Sidrap, terdapat 614 jiwa dan 221 unit rumah yang terdampak oleh bencana ini.
Selanjutnya, di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, banjir bandang akibat luapan Sungai Didingga yang terjadi sejak Selasa (26/5) dilaporkan mulai surut. Dampak banjir di Kecamatan Biau ini tercatat cukup masif, melanda lima desa dan berdampak pada 2.817 jiwa. Kerugian materiil meliputi 3 rumah hanyut, 20 rumah rusak berat, dan 826 unit rumah terendam lumpur serta material kayu.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir selama 30 hari, berlaku hingga 24 Juni 2026, guna mengoptimalkan operasional dapur umum dan distribusi logistik.
Dampak Banjir Nunukan dan Imbauan Waspada Satwa Liar
Bencana banjir dan longsor juga dilaporkan melanda wilayah Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) beserta sejumlah fasilitas publik seperti masjid dan badan jalan terdampak luapan air dan pergeseran tanah.
Meski kondisi banjir dilaporkan sudah surut dan akses jalan mulai bisa dilalui, BPBD Kabupaten Nunukan mengeluarkan imbauan khusus bagi warga setempat. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan serta ancaman kemunculan satwa liar seperti buaya di sekitar area terdampak.
Mengantisipasi dinamika cuaca selama masa pancaroba ini, BNPB mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi angin puting beliung, hujan ekstrem, hingga bencana geologi seperti gempa bumi.
Warga juga disarankan untuk menyiapkan tas siaga bencana secara mandiri serta memantau perkembangan informasi cuaca dari kanal resmi BMKG dan BNPB.
Baca Juga: Kepala BNPB Pantau Progres Huntara di Aceh Tamiang, Pastikan Solusi bagi Warga Penyewa Rumah
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.