Rekam Jejak Digital Irjen Pipit Rismanto Kerap Tuai Kontroversi
FAKTANASIONAL.NET - Kedekatan Irjen Pipit Rismanto, Kapolda Kalbar , dengan Aseng alias Sudianto dinilai sebagai hal yang wajar, terutama dalam konteks kegiatan event voli Proliga 2024 hingga 2026 serta Piala Voli Asia AVC di Pontianak. Namun, rekam…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Kedekatan Irjen Pipit Rismanto, Kapolda Kalbar, dengan Aseng alias Sudianto dinilai sebagai hal yang wajar, terutama dalam konteks kegiatan event voli Proliga 2024 hingga 2026 serta Piala Voli Asia AVC di Pontianak.
Namun, rekam jejak digital Pipit Rismanto sejak tahun 2015 kerap menuai polemik, terutama terkait dugaan kedekatannya dengan para pelaku tambang ilegal di Sulteng, Kaltim, dan Kalbar.
Baca Juga: Kapolda Kalbar Belum Sertijab, Ada Apa?Irjen Pipit Rismanto kepada Media Fakta Group/Fakta Kalbar menyampaikan alasan kedekatannya dengan Aseng alias Sudianto, yang kerap terlihat dalam berbagai foto saat menghadiri kejuaraan Proliga 2024 hingga 2026 serta Piala Asia AVC (Asian Volleyball Confederation). Pipit mengungkapkan, “Kami bisa dekat dengan siapa saja, dan memang masalahnya di mana?”
Pipit menegaskan bahwa kedekatannya dengan Aseng alias Sudianto, yang merupakan tersangka kasus pertambangan bauksit ilegal yang ditangkap tim Kejaksaan Agung pada 21 Mei 2026, tidak terlepas dari jabatannya sebagai Kapolda Kalbar serta kehadiran Aseng dalam kegiatan kejuaraan voli tingkat nasional dan Asia di Pontianak.
“Wajar saja kalau orang mau mendekat karena jabatan saya sebagai Kapolda. Apalagi banyak penonton voli dari Kalbar, sehingga banyak yang berfoto dengan saya. Ditambah lagi penyelenggaraan voli tersebut di Pontianak, sehingga para voli mania banyak berfoto dengan Kapolda,” tegas Pipit.Sementara itu, rekam jejak Pipit Rismanto saat menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bangka Belitung pada tahun 2015 hingga menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri pada tahun 2021 kerap menuai kontroversi, sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media seperti Tempo, kompas, JPNN, CNN dan RMOL.
Dalam periode tersebut, dugaan keterlibatan Pipit Rismanto, saat masih berpangkat Brigjen Pol dan menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, dalam pusaran kasus tambang ilegal di Kalimantan dan Sulawesi turut mendapat sorotan dari berbagai pihak.
Salah satu pihak yang menyoroti adalah pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto. Ia menyebut dugaan keterlibatan Pipit memiliki indikasi kuat berdasarkan Nota Dinas mantan Karopaminal Polri, Brigjen Hendra Kurniawan, sebagaimana dilansir dari Tempo.co pada 1 Januari 2023.
Menurut Bambang, dalam dokumen yang pernah beredar, Pipit disebut telah mengetahui aktivitas Ismail Bolong, namun tidak melakukan penindakan. Nama Pipit juga disebut memiliki peran serupa dalam Laporan Hasil Penyelidikan yang ditandatangani mantan Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo.
“Dalam surat FS dan nota dinas HK terkait tambang ilegal Ismail Bolong, Pipit sudah mengenal dan mengetahuinya sejak awal, namun tidak melakukan tindakan apa pun,” ujar Bambang kepada wartawan.Adapun dugaan keterlibatan Pipit di Sulawesi berkaitan dengan tambang ilegal di Blok Mandiogo. Bambang mengaku merujuk pada laporan Majalah Tempo berjudul “Jabal Nikel Ilegal” yang mengungkap indikasi peran Pipit sebagai pihak yang diduga membekingi aktivitas pertambangan ilegal di Sulawesi Tenggara tersebut.
“Dalam laporan Tempo soal Blok Mandiogo, Pipit juga disebut memiliki indikasi keterlibatan,” kata Bambang.Dalam surat yang dikeluarkan oleh Divisi Propam Polri terkait kasus tambang ilegal yang melibatkan Ismail Bolong, terdapat sejumlah nama yang disebut turut memuluskan eksploitasi mineral di wilayah tersebut.
Baca Juga: Jejak Pengusaha Kapal AM di Lingkaran Aseng, dan Peran dalam Distribusi Bauksit Ilegal KalbarSelain Komjen Agus Andrianto, terdapat pula nama Kombes Budi Haryanto selaku mantan Kasubdit V Dittipidter Bareskrim Polri, serta Brigjen Pipit Rismanto yang saat itu menjabat sebagai Dirtipidter Bareskrim Polri, sebagaimana dilansir dari JPNN.com pada 12 Januari 2023.
“Brigjen Pipit Rismanto selaku Dirtipidter Bareskrim Polri mengenal Aiptu Ismail Bolong dari adanya surat Dumas yang diduga bekerja di wilayah kawasan hutan Gunung Menangis, wilayah kerja PKP2B milik PT Mahakam Sumber Jaya (Aiptu Ismail Bolong bukan pemilik PKP2B dan tidak memiliki kerja sama). Tidak dilakukan penindakan karena adanya informasi dari Kombes Pol Budi Haryanto selaku Kasubdit V Dittipidter bahwa terdapat atensi dari Komjen Pol Agus Andrianto selaku Kabareskrim Polri,” demikian bunyi surat penyidikan yang diterbitkan Divisi Propam Polri.Selain Bambang, Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, juga turut menyoroti hal tersebut. Ia mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mencopot Pipit dari jabatannya karena dinilai tidak akan mampu menangani kasus tambang ilegal di Sulawesi Tengah, mengingat rekam jejaknya dalam kasus serupa.
“Menurut saya, Dirtipidter harus diganti karena memiliki kewenangan dalam mengurus kasus seperti ini,” ujar Sugeng dalam sebuah diskusi di Jakarta.Sementara itu, Brigjen Pipit membantah seluruh tudingan terhadap dirinya. Ia bahkan mengaku bahwa dirinya yang memerintahkan penangkapan terhadap Ismail Bolong, sebagaimana dilansir dari RMOLJatim.id pada 12 Januari 2023.
“Simak baik-baik, sayalah yang memerintahkan penangkapan Ismail Bolong. Itu sudah lama terklarifikasi. Sekarang saya yang menyidik Ismail Bolong. Bagaimana bisa cerita dibolak-balik? Saya pikir Anda ketinggalan informasi,” ujarnya saat dikonfirmasi.Saat ini, serah terima jabatan Irjen Pipit Rismanto sebagai Kapolda Kalbar kepada Irjen Albert Teddy Sianipar belum juga dilaksanakan, meskipun putusan Kapolri telah terbit pada 7 Mei 2026. Pipit pun menanggapi hal tersebut kepada Media Fakta Group/Fakta Kalbar dengan mengatakan, “Masalah sertijab kita tunggu saja. Kenapa, ada yang gerah? Ingin saya pergi dari Kalbar?”
(tim)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.