Fakta Nasional

Tudingan Bahwa AMPB Disogok DPR Rp500 Juta

FAKTANASIONAL.NET - Kelompok pemuda Pati, Jateng, angota Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dituding oleh sopir ojol sudah terima Rp500 juta dari anggota DPR. Indikasinya, menurut ojol, karena AMPB langsung pulang ke Pati, Kamis siang, 27 Agustu…

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 29 August 2026 📖 4 menit
Tudingan Bahwa AMPB Disogok DPR Rp500 Juta
Sopir ojol yang menuding AMPB terima sogok Rp500 juta dari DPR. Foto: Kolase Instagram

FAKTANASIONAL.NET - Kelompok pemuda Pati, Jateng, angota Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dituding oleh sopir ojol sudah terima Rp500 juta dari anggota DPR. Indikasinya, menurut ojol, karena AMPB langsung pulang ke Pati, Kamis siang, 27 Agustus 2026 setelah bertemu anggota DPR. AMPB tidak demo sampai malam.

Tudingan itu aneh. AMPB demo ke Gedung DPR dengan tuntutan mendesak DPR RI mengesahkan RUU Perampasan Aset Koruptor. Menanggapi itu, anggota DPR rapat di dalam Gedung. Koordinator AMPB Supriyono alias Botok diundang menyaksikan jalannya rapat. Setelah rapat usai, Botok diminta anggota DPR membacakan hasil rapat di depan massa demo.

Demo di DPR Berakhir Ricuh

Hasil rapat ditulis pada kertas berkop DPR RI. Intinya, pihak DPR berjanji mengesahkan RUU tersebut paling lambat 15 Desember 2026. Selesai.

Botok seusai membacakan surat janji DPR itu ia segera mengkoordinir massa AMPB untuk langsung pulang ke Pati. Siang itu juga mereka berkumpul di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, lalu naik ke bus masing-masing. Bus berangkat menuju Pati.

Sementara itu, demo di depan DPR terus berlangsung sampai malam, bahkan dini hari. Sekitar 2.000 personil TNI-Polri mendesak massa terus mundur, sehingga bubar menjelang pagi, Jumat, 28 Agustus 2026.

Massa AMPB Ditampung di Rumah Gus Dur

Dari situ pihak sopir ojol kecewa pada kelompok AMPB. Salah satu juru bicara ojol seorang Wanita berjaket hijau khas ojol.

Perempuan itu mengatakan: "Kami warga Jakarta merasa diberaki sama kalian, AMPB. Kalian main pulang saja sesudah dari dalam. Kalian sudah cair, terima Rp500 juta dari DPR, terus kalian pulang. Bagaimana nasib rekan-rekan saya yang sudah membekingi Anda?"

Menurut perempuan itu, mestinya AMPB berdemo sampai malam, bila perlu sampai pagi. Karena, kelompok AMPB sudah dibantu para sopir ojol dengan tumpangan motor gratis serta sumbangan makanan dan uang.

Pernyataan perempuan yang diunggah ke medsos itu pun viral. Dikomentari warganet dengan aneka komentar.

Di situ tampak, bahwa sesama rakyat miskin berbenturan pendapat. Massa AMPB yang menyisihkan uang untuk menyewa bus dari Pati menuju Jakarta. Melawan sopir ojol yang sehari-hari keliling Jakarta mencari penumpang untuk menafkahi keluarga. Sama-sama orang susah alias miskin. Mereka berantem sendiri saat para pendemo berusaha menyerang orang kaya yang kekayaannya dari mencuri uang rakyat, koruptor. Sangat ironis.

Jumat siang, 28 Agustus 2926, Botok melakukan klarifikasi. Kepada wartawan di Pati, ia mengatakan, tudingan sopir ojol Jakarta itu tidak benar.

"Kami pulang ke Pati, karena tuntutan kami mendesak DPR mengesahkan RUU itu sudah ditanggapi dengan surat janji. Ya, sudah. Kami pulang. Mau apa lagi demo sampai malam?" katanya.

Rekening Botok Rp80,9 Juta di Bank Mandiri Diblokir Sepihak

Pihak AMPB, kata Botok telah meminta izin pamit pulang pada Kamis siang kepada para Ojol. Para Ojol kata Botok, yang membuka jalan untuk warga Pati meninggalkan DPR RI saat situasi mulai memanas karena provokasi.

Maka dari itu Botok curiga, wanita paruh baya yang menuduh warga Pati menerima uang Rp500 juta adalah provokator yang sengaja mendiskreditkan aksi warga Pati.

Soal tudingan ia dibayar pihak DPR Rp500 juta, Botok ketawa, "Siapa yang mau bayar segitu ke kami? Memangnya kami orang penting yang harus disogok para anggota DPR?" katanya.

Siapa sosok wanita berjaket ojol yang menuding Botok terima Rp500 juta itu? Ternyata dia warga Jakarta.

Di medsos ramai membahas wanita itu. Sebagian warganet menelusuri sosok itu. Ada, akun Maulana Hidyam mengaku, ia tinggal bertetangga dengan wanita itu.

Akun Maulana: "Ibu itu tetangga saya. Dia bukan ojol dan dia bukan asli Jakarta. Dia keturunan orang Sumatera, dan pernah jadi timses salah satu calon anggota DPR RI."

Ada lagi, akun Said Nur Abdullah membuka identitas wanita berjaket ojol itu.

Akun Said: "Ibu ini bukan ojol. Namanya Melva Maria Rosa Pardede, asal Sumut. Dia tinggal di Jalan Haji Ung Nomor 17E, RT 001/002, Utan Panjang Kemayoran, Jakarta Pusat. Bukan driver shopee food juga. Dia ex aktivis dan pernah jadi timses calon anggota DPR. Dia ingin membuat Jakarta chaos dengan membenturkan antar kelompok."

Namun, informasi dari warganet tersebut belum terkonfirmasi.

Pada akun Instagram Melva Pardede pernah memposting tanda bukti penilangan dari polisi. Dia ditilang polisi, karena dia naik motor melewati tanda verboden atau dilarang lewat.

Dalam foto tampak Melva mengendarai motor mengenakan jaket ojol. Dia memposting di Instagram sebagai protes, karena merasa tidak bersalah meski sudah melewati jalan melawan arah.

Unggahan Melva: "Gubernur DKI tdk pro rakyat kecil, kok bisa elite ada dipinggiran kota main ckrek aja posisi saya lawan arah..."

"jika saya lawan arah di jalan besar,ingat ya jln besar, contoh tdk jauh dri wilayah saya kena elite Rawamangun, ini blh di bilang jalan akses warga wara wiri...."

Kejadian itu menggambarkan, begitulah karakter masyarakat kita. Warga miskin berantem dengan sesama warga miskin. Dengan tuduhan ada uang sogok Rp500 juta.

Tak beda dengan zaman perjuangan kemerdekaan kita, sebelum Indonesia merdeka, dulu. Saat itu orang Belanda sengaja 'memakai' warga Indonesia sebagai tenaga kerja untuk pekerjaan 'kasar'. Misalnya, menjadi pembantu, tukang cuci pakaian, tukang sapu, tukang masak. Bahkan, jadi centeng alias satpam penjaga rumah orang Belanda.

Apa dampaknya?

Warga yang kebetulan tidak 'dipakai' Belanda iri. Mereka menyebarkan isu. Bahwa warga yang 'dipakai' sebagai pengkhianat.

Ilustrasi zaman penjajahan itu sangat mirip dengan zaman now pada tudingan perempuan sopir ojol itu. Karakter bangsa kita masih seperti itu. Dari dulu sekali sampai kejadian demo di DPR, kemarin. (*)

 


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK