Mengemis Kompensasi ke Iran, Trump Kalah Perang, Kalah Narasi, dan Kalah Amunisi

TRUMP meminta kompensasi dari Iran atas kerugian perang yang dialami AS. memang logika ini sangat terbalik, siapa yang menyerang siapa yang diserang, dan siapa yang minta ganti rugi.

Logika Trump seperti ini sekali lagi menunjukkan AS kalah perang, kehilangan kendali atas perang, dan tidak mampu mengakhiri apa yang mereka telah mulai akhir Febuari lalu.

Hasilnya kebingungan, selain tidak mampu lagi melanjutkan perang, AS juga kalah narasi dan lebih pahitnya lagi kalah amunisi. Stok amunisi kering, dan mustahil bisa menaikkan eskalasi.

Trump berkali kali “denied” di depan media bahwa AS tidak kehabisan amunisi, tapi berjalan waktu, Trump akhirnya mengakui hal ini, sambil mengambil langkah konkret untuk produksi senjata dan amunisi besar besaran.

Iran tegak, AS sempoyongan.

Iran terus produksi amunisi, AS mentok dan stuck.

Iran mengendalikan lapangan, AS kehilangan arah.

Iran menentukan arah perang dan mengelola perang, AS menonton.

Pemerintah Iran masih tegak, dalam negeri AS yang justru bergolak.

Iran stabil dan masih kokoh, bahkan Pemimpin tertinggi Iran baru saja merombak kabinet, terutama di tubuh angkatan perang.

Jenderal Vahidi memimpin IRGC.

Jenderal Ali Abdullahi memimpin kepala staff umum.

Hossein Tayeb Memimpin Basij Nasional.

Jenderal Mohsen Rezai jadi Chief Security Council.

Dan beberapa perombakan lainnya.

Yang dipilih oleh pemimpin tertinggi Iran sekarang justru adalah pejabat yang radikal, garis keras, dan terkenal tidak kompromi dengan AS.