Mengemis Kompensasi ke Iran, Trump Kalah Perang, Kalah Narasi, dan Kalah Amunisi

Iran terus konsolidasi kekuatan sambil terus memegang kendali Selat Hormuz, Iran juga mengendalikan program nuklirnya tanpa kompromi dengan AS.

Situasi sekarang di lapangan ditentukan Iran, kalau AS mau damai, maka dia harus bayar kompensasi 300 miliar dolar, kalau tidak mau damai, maka AS wajib penuhi semua butir kesepakatan di Islamabad dan Swiss. Kalau juga tidak, maka Iran akan kembali bersiap untuk perang.

Di meja Iran, tidak ada kata menyerah, tidak ada kalimat tunduk, dan tidak ada pilihan untuk menurunkan tekanan terhadap AS.

Di meja AS, tidak ada lagi kemampuan untuk menaikkan eskalasi, tidak lagi mendikte arah perang, dan tidak ada lagi kemampuan menekan Iran, baik di meja runding atau di Medan tempur.

Jika AS mau mengakhiri perang, pilihan di depan mata masih sama: akui hak Iran, termasuk hak balistik dan nuklir, pindahkan pangkalan militer khususnya yang dekat dengan Iran, teken MOU tidak menyerang Iran lagi di masa mendatang.

Untuk negara negara Teluk juga tidak ada pilihan, berkordinasi dengan Iran dan hidup berdampingan, atau mereka ikut AS memerangi Iran dengan cost negara mereka dihancurkan Iran tanpa bisa dibantu AS.

Jika negara negara teluk ingin melakukan kerjasama join operation seperti yang baru dilakukan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Maka itu tidak boleh mengancam Iran. Kalau kerjasama ketiga negara itu untuk mengancam Iran, maka Iran akan berperang dengan mereka. Itu garis yang jelas atas nama kedaulatan Iran.

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan jadi mainan AS saat ini untuk menekan Iran, kerjasama ketiga negara ini adalah inisiatif AS dan Arab Saudi, karena sudah babak belur kena balistik Iran selama perang kemarin. Saudi dihajar oleh Iran dan Houthi sekaligus karena menjadi host bagi militer AS di kawasan itu. Dan AS mengalami hal yang sama.

Pilihan Iran kedepan juga tidak banyak juga tidak berubah. Semua hak hak Iran wajib dihormati oleh AS atau Israel atau negara teluk. Jika tidak, Iran lebih terus memilih berperang untuk mempertahankan diri.

Trump bisa beretorika panjang lebar bahwa AS baik baik saja. Tapi data dan fakta di lapangan tidak bisa berbohong. AS ditundukkan Iran dan Israel dibuat frustasi karena semua rencana jahatnya terhadap Iran gagal total.

Konsolidasi kekuatan Iran saat ini secara domestik, menunjukkan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi konflik dengan AS dan Israel jangka panjang. Dengan terus memastikan bahwa Iran kuat dan bersatu. Untuk menangkal ancaman luar.

Di meja Trump dan Netanyahu saat ini tidak ada pilihan baru, mereka hanya sedang menunggu pemilu yang kemungkinan besar kalah akibat kalah perang.

Kegagalan perang terhadap oran ini bukan hanya menggagalkan rencana AS di asia Barat, tapi juga akan menjadi pintu masuk kegagalan mereka menghadapi China dan Rusia dalam konflik jangka panjang.

Trump dan Netanyahu menurut saya punya nasib akhir yang buruk efek kalah perang ini, baik buruk secara politik, secara geopolitik, dan bahkan bisa bernasib buruk secara personal dan nasib diri dan keluarganya.

Kekalahan perang yang tidak dikelola dengan baik oleh Trump dan Netanyahu selama ini, yang terus menerus merasa arogan dan bersikap angkuh, bukan hanya akan berdampak bagi AS dan Israel saja. Tapi juga akan berdampak pada nasib akhir perjalanan politik Netanyahu dan Trump itu sendiri.

Tengku Zulkifli Usman