Dari pustaka itu, pengunjung diajak belajar bagaimana penduduk Simeulue dulu menghadapi tsunami.
“Jadi di Simeulue itu ternyata ketika kita melihat beberapa tahun yang lalu, jauh tahun sebelumnya, tahun 1907 di Simeulue itu pernah mengalami tsunami. Nah dari tsunami itu mereka membuat satu hikayat, masyarakat di situ membuat satu hikayat namanya Smong,” jelasnya.
Dirinya berharap, meningkatnya kunjungan ke Museum Tsunami Aceh dapat memperluas penyebaran ilmu kebencanaan, baik ke masyarakat Aceh maupun seluruh Indonesia. Ini sebagaimana masyarakat Simeulue yang berhasil menyampaikan pesan kepada masyarakat luas.
“Kita yang hadir ke museum juga seharusnya bisa menyampaikan pesan itu, pesan ilmu kebencanaan, terutama bagi keluarga kita sendiri,” tandasnya.
Salah satu atlet yang memilih berkunjung ke museum di sela agendanya ke Aceh yaitu Alif Thaariq. Dia merupakan atlet cabang olahraga layar kontingen Provinsi Sulawesi Selatan.
Sembari menunggu jadwal bertanding, dirinya bersama rombongan menyempatkan diri mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Aceh salah satunya Museum Tsunami Aceh. Dia mengaku, ini merupakan momen pertama mengunjungi Tanah Rencong tersebut.
Dalam kesempatan itu, Alif juga menyampaikan perasaannya setelah memasuki Musem Tsunami Aceh. Dirinya mengaku turut bersedih atas musibah tsunami yang menimpa masyarakat Aceh.
“Dan ini pembelajaran bagi kami tentang sejarah yang belum kami ketahui, karena Aceh [lokasinya] jauh dari daerah kami,” ujarnya.[zlj]











