Sementara itu, Ketua Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Uka Suska menjelaskan, pihaknya telah melaksanakan sejumlah kegiatan pra-bencana meliputi pembentukan Desa Tangguh Bencana, pemasangan Automatic Water Level Recorder (AWRL) hingga penyediaan logistis tanggap darurat dengan melibatkan berbagai pihak termasuk pihak swasta.
Kegiatan pra-bencana lainnya yang telah dilakukan diantaranya menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana ke sekolah dan berbagai layanan kesehatan.
Uka menegaskan, pihaknya sepakat terkait kolaborasi pentahelix masih perlu terus dilakukan. Kendati, kolaborasi tersebut masih lebih banyak dilakukan dalam kegiatan saat dan pasca bencana, ketimbang kegiatan pra-bencana.
“Berbagai kolaborasi telah coba diinisiasi oleh BPBD Kabupaten Bandung dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana baik dengan melibatkan antar perangkat daerah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, maupun media,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Uka juga menegaskan, dalam mengupayakan kegiatan pra-bencana yang lebih optimal pihaknya memerlukan dukungan baik dari segi sistem yang kuat, kebijakan yang tepat hingga infrastruktur yang memadai.
“Namun, dalam mengoptimalkan kegiatan pra-bencana ini, Kita membutuhkan dukungan sistem yang kuat, termasuk kebijakan yang tepat, infrastruktur yang memadai, dan kolaborasi dengan sektor swasta, akademisi, serta masyarakat,” pungkasnya. [zul]











