Trump kembali menuduh China melanggar kesepakatan untuk menurunkan tarif impor, sehingga memicu kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi perang dagang baru.
Karena itulah, investor memilih menunggu hasil pembicaraan Trump-Xi sebagai sinyal arah kebijakan ekonomi global. Jika negosiasi gagal, dolar kemungkinan terus menguat—yang secara langsung menekan harga emas.
Selain faktor geopolitik, data ketenagakerjaan AS nonpertanian (Nonfarm Payrolls) yang akan dirilis dalam pekan ini juga menjadi katalis penting bagi pergerakan emas.
Investor menanti angka tersebut sebagai petunjuk utama tentang kesehatan ekonomi AS. Jika data menunjukkan angka ketenagakerjaan yang melonjak, pasar akan lebih meyakini bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, sehingga dolar kembali mendapat tekanan positif.
Sebaliknya, jika angka ketenagakerjaan melambat, spekulasi penurunan suku bunga September pun menguat, yang biasanya mendukung harga emas.
Sejauh ini, harga emas telah mencatat kenaikan sekitar 28% sepanjang tahun 2025, mengukuhkan statusnya sebagai aset lindung nilai utama saat ketidakpastian politik dan ekonomi semakin meningkat.
Namun, tren penguatan tahun ini mulai tertahan oleh harapan investor bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengurangi tingkat keyakinannya dalam memotong suku bunga sebelum kuartal akhir.
Seperti diungkap Meger, “Saya percaya The Fed siap untuk memangkas suku bunga kembali, meskipun kemungkinan besar tidak akan dilakukan hingga September. Ini juga bisa menjadi faktor yang menekan dolar dan mendukung harga emas.”[dit]











