Meskipun gandum dan kedelai menjadi prioritas, Amran membuka kemungkinan masuknya produk lain seperti susu dan jagung jika kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. Namun, ia menegaskan bahwa setiap keputusan impor akan selalu mempertimbangkan kepentingan petani lokal. “Petani tetap harus kita bela, jadi kita impor kalau kebutuhan dalam negeri tidak cukup. Iya kan?” tambahnya.
Kesepakatan dengan AS menurunkan tarif impor produk Indonesia dari sebelumnya 32% menjadi 19%, sekaligus mengikat komitmen Indonesia membeli produk pertanian AS senilai US$ 4,5 miliar (Rp 73 triliun). Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kebijakan ini membuka akses penuh bagi produk pertanian AS ke pasar Indonesia—termasuk gandum dan kedelai—dengan tarif 19% tanpa timbal balik beban tarif.[dit]











