Hasto juga menyinggung pokok-pokok Rekomendasi Eksternal Rakernas I PDI Perjuangan Tahun 2026, yang menegaskan posisi Partai sebagai penyeimbang demokrasi dan penjaga kualitas tata kelola negara.
Salah satu sikap politik yang disorot ialah komitmen mempertahankan pilkada langsung, disertai dorongan agar pelaksanaannya lebih berbiaya rendah melalui penguatan integritas penyelenggara, penegakan hukum pemilu, serta pengendalian praktik politik uang dan mahar politik.
Isu ekologis turut menjadi perhatian utama dalam diskusi. Mengacu pada rekomendasi Rakernas, PDI Perjuangan mendorong langkah konkret pencegahan bencana melalui perbaikan kebijakan tata ruang, penghentian deforestasi, penindakan tegas terhadap kejahatan ekologis seperti illegal logging dan illegal mining, serta pemulihan ekosistem, termasuk kawasan pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan lahan basah.
Isu lingkungan dipandang sebagai persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari warga, mulai dari banjir, longsor, krisis air bersih, hingga meningkatnya beban biaya hidup akibat bencana yang berulang.
Dalam penutup diskusi, Hasto menegaskan bahwa politik memerlukan kejernihan hati dan kedekatan dengan realitas rakyat. Ia menilai pengalaman hidup yang berat, termasuk masa penahanan, dapat menjadi pelajaran agar kerja politik dijalankan dengan kerendahan hati, sikap terukur, dan keberpihakan nyata pada persoalan yang dirasakan masyarakat.
Coffee morning ini turut dihadiri oleh Deni Wicaksono, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua DPRD Jawa Timur; Bambang Yuwono Logos, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur; serta Eri Irawan, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya dan Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya.
Semuanya menegaskan komitmen Partai untuk menjaga ruang dialog yang terbuka dan sehat bersama media dan publik.











