Menurutnya, demokrasi seharusnya menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan, bukan ajang perpecahan. Ia mengajak para kader Golkar untuk merenungkan kembali apakah mekanisme yang ada sekarang masih layak untuk dipertahankan.
Sebagai partai yang berpegang pada Pancasila dan UUD 1945, Golkar diminta Bahlil untuk mengambil peran aktif di DPR maupun MPR.
Ia menginstruksikan kadernya untuk mengkaji format demokrasi yang lebih tepat bagi karakter bangsa Indonesia. Fokus utamanya adalah menjaga marwah negara tanpa mengorbankan stabilitas dan persaudaraan masyarakat.[dit]










