Karena di negeri demokrasi paling maju, hukum bisa dibuat tumpul selama pelakunya pakai jas mahal.
Di titik ini, jangan heran kalau publik mulai curiga. Ini kegagalan hukum atau memang sistemnya didesain untuk gagal? Konspirasi? Mungkin.
Tapi konspirasi yang didukung jutaan halaman dokumen bukan lagi teori, itu katalog.
Di sinilah kita sampai pada akar masalah yang sering ditertawakan kaum sekuler garis keras, hilangnya nilai agama. Ketika manusia tak lagi percaya pada pertanggungjawaban di luar pengadilan dunia, moral berubah jadi opsi, bukan kewajiban. Hukum jadi satu-satunya pagar.
Seperti yang kita lihat, pagar itu bisa dilompati pakai uang, pengaruh, dan koneksi.
Agama, apa pun keyakinannya, mengajarkan satu hal yang tak bisa disuap, rasa takut batin. Takut pada Tuhan. Takut pada konsekuensi akhir.
Studi akademik menunjukkan nilai agama memperkuat empati, rasa keadilan, dan pengendalian diri. Ia bekerja bukan saat kamera menyala, tapi justru saat semua gelap dan sunyi, di tempat-tempat yang tak terjangkau jaksa dan wartawan.
Epstein Files membuktikan satu hal pahit, peradaban tanpa nilai agama hanya menghasilkan manusia pintar yang lebih efisien dalam berbuat jahat.
Teknologi tinggi, hukum canggih, jargon HAM, semuanya runtuh saat berhadapan dengan nafsu dan kuasa tanpa rem spiritual.
Mega skandal ini bukan sekadar arsip kriminal. Ia adalah kitab peringatan.
Tanpa nilai agama, manusia modern tak sedang menuju kemajuan, melainkan sedang memoles kebiadaban dengan bahasa akademik dan jas mahal.
Kalau dunia masih keras kepala menertawakan agama sebagai “usang”, Epstein Files sudah menjawab dengan cara paling brutal. Tanpa iman, moral cuma slogan. Tanpa Tuhan, keadilan cuma dekorasi.
Baca Juga: Dukungan Moral Umi Pipik: Menyikapi Ujian Hidup dan Pentingnya Sahabat
Oleh : Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.











