Opini  

Cerpen “Kisah Tragis Tewasnya Kapten Egon”

"Pesawat Kargo Maskapai Smart Air"
Pesawat Kargo Maskapai Smart Air. (Dok. Website/MSN.com

FAKTANASIONAL.NET, OPINI – Rabu, 11 Februari 2026. Pukul 11.00 WIT. Langit di atas Bandara Korowai Batu menggantung seperti kain duka yang belum sempat dijahit. Deru baling-baling Cessna Grand Caravan PK-SNR milik Smart Air membelah sunyi pedalaman Papua Selatan.

Pesawat itu terbang dari Tanah Merah menuju Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, membawa 13 penumpang, tiga belas nama, tiga belas nadi, tiga belas alasan untuk pulang.

Di kokpit, Kapten Egon Erawan atau Irawan, menggenggam kendali dengan tenang. Lulusan sekolah penerbangan di Melbourne, Australia.

Baca Juga: Titik Terang Pencarian ATR 42-500: Serpihan Pesawat Ditemukan di Gunung Bulusaurung

Pilot senior di Smart Cakrawala Aviation. Salah satu andalan. Sudah berkali-kali ia menembus awan Papua, membawa obat-obatan, sembako, guru, harapan.

Ia tahu setiap lekuk lembah. Ia hafal bagaimana angin pedalaman bisa berubah seperti suasana hati manusia.

Di sampingnya, Kapten Baskoro Adi tersenyum tipis.

Mereka bukan sekadar pilot. Mereka adalah jembatan. Mereka adalah denyut yang menghubungkan dunia luar dengan kampung-kampung yang tak tersentuh aspal.

Roda pesawat menyentuh tanah Bandara Korowai Batu dengan lembut. Seharusnya ini hanya pendaratan biasa. Seharusnya.

Tapi bunyi itu datang.

Bukan bunyi rem. Bukan bunyi pintu terbuka.
Melainkan letusan.

Peluru menembus udara yang tadi masih suci. Orang tak dikenal menembaki pesawat sipil yang baru saja mendarat. Deru baling-baling berubah menjadi jeritan logam.

Kabin yang semula berisi napas lega mendadak menjadi ruang ketakutan.

AKBP Wisnu Perdana Putra, Kepala Polres Boven Digoel, menerima informasi sekitar pukul 11.00 WIT: pesawat dengan 13 penumpang telah mendarat.

Namun tak lama kemudian, kabar berubah menjadi mimpi buruk. Pesawat ditembaki ketika berada di bandara.

Di dalam kekacauan itu, Kapten Egon dan Baskoro tidak memikirkan diri mereka lebih dulu. Mereka membuka pintu, berteriak kepada para penumpang untuk lari.

Yance Bemanop. Limu Gurik. Yanduk Kogoya. Turis Magai. Emira Wonda. Kiris. Dua Lima Kogoya. Inantius Kahipka. Irfan Kahipka. Samuel Jitmau. Pania Mialika. Topiu Kogoya. Tialongga Kogoya.

Tiga belas nama itu berlari ke hutan, napas mereka patah-patah, kaki mereka tersandung akar dan tanah basah. Hutan yang biasanya memberi hidup kini menjadi tempat persembunyian.

Di tengah suara tembakan, dua pilot itu ikut berlari. Bayangkan, lelaki yang biasa menembus awan, kini bersembunyi di balik pohon.

Mereka sempat menghilang dari pandangan. Sempat bersembunyi. Sempat berharap. Namun para pelaku menemukan mereka.