“Pemenang perang masa depan bukan yang memiliki militer terbesar, tetapi yang menguasai data, algoritma, dan kecerdasan strategis,” tegas Salim.
Rekomendasi untuk Indonesia: Jangan Cuma Jadi Pasar
Merespons pergeseran global ini, Salim menekankan bahwa pemerintah Indonesia harus bergerak cepat membangun kedaulatan teknologi dan ketahanan strategis nasional. Caranya adalah dengan memperkuat pertahanan siber, komunikasi kuantum, serta integrasi data nasional.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi atau arena proxy competition negara besar, tetapi harus menjadi negara maritim yang mampu mengendalikan keamanan informasi, infrastruktur digital, serta kemampuan pengambilan keputusan strategis secara mandiri,” tegasnya lagi.
Selain modernisasi alutsista fisik, Indonesia dituntut memperkuat aspek non-fisik seperti diplomasi strategis, riset teknologi tinggi, serta kolaborasi regional di level ASEAN. Hal ini karena ancaman masa depan tidak lagi melulu datang dari serangan udara atau laut terbuka, melainkan dari ruang-ruang digital dan kognitif manusia.
“Karena perang masa depan mungkin tidak dimulai dengan rudal, tetapi dengan algoritma, gangguan siber, manipulasi kognitif, dan sistem otonom. Khusus keamanan maritim masa depan kita membutuhkan adaptive governance, technological resilience, strategic diplomacy, serta kerja sama regional berbasis trust dan innovation,” pungkas Salim.
Baca Juga: Perang Suku Pecah di Wamena: 13 Orang Tewas, Jembatan Roboh, dan Ratusan Warga Mengungsi









