“Artinya kalau kita bagi 3,5 juta ton dibagi 73 juta ton itu 4 – 5 persen, sedangkan standar swasembada adalah sesuai FAO tahun 1999 itu bisa impor 10 persen. Artinya apa? Swasembada pangan, swasembada beras bahkan surplus,” ucap dia.
Setop Impor Beras Premium dan Gudang Bulog yang Penuh
Keberhasilan swasembada ini salah satunya tercermin dari komoditas beras. Amran menyampaikan bahwa pada tahun 2025, pemerintah mengambil kebijakan tegas dengan tidak mengeluarkan satu pun izin impor untuk beras premium.
Melimpahnya pasokan beras dalam negeri ini berdampak langsung pada kapasitas tampung Perum Bulog. Amran mengungkapkan, stok beras yang dikelola Bulog saat ini meluap hingga melampaui kapasitas normal yang dimiliki.
Dari kapasitas gudang reguler sebesar 3 juta ton, saat ini Bulog harus mengelola stok yang mencapai 5,2 juta ton. Konsekuensinya, manajemen Bulog terpaksa mencari fasilitas penyimpanan tambahan demi mengamankan komoditas pokok tersebut.
“Artinya Bulog hari ini menyewa gudang 2,2 juta ton. Yang belum yakin silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia,” pungkas Amran optimistis.











