Menurut Kardinal Suharyo, hati nurani kolektif bangsa harus terus diasah melalui ruang-ruang dialog agar tidak tumpul dalam membaca realitas sosial.
“Gerakan ini menamakan diri Gerakan Nurani Bangsa. Nurani itu bisa tumpul kalau tidak pernah diasah. Oleh karena itu, kalau kami berkumpul, berdiskusi, bertukar gagasan, itu harapannya nurani kami di dalam Gerakan Nurani Bangsa ini sendiri menjadi semakin tajam dan jernih,” tutur Kardinal Suharyo.
Dengan hati nurani yang jernih, lanjutnya, para tokoh bangsa dapat melihat realitas kemasyarakatan secara objektif, bebas dari kepentingan sektoral atau emosi sesaat, melainkan murni demi kemaslahatan Indonesia.
“Sehingga kita bisa melihat realitas dengan baik dan benar. Tidak dengan emosi, tidak dengan kepentingan, tetapi sungguh-sungguh murni untuk kepentingan bangsa kita,” imbuhnya.
Ketika ditanya mengenai poin-poin konkret yang dibahas bersama Megawati, Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa materi diskusi berkisar pada isu-isu aktual kemasyarakatan dan jalannya pemerintahan yang belakangan berkembang di media massa.
Sebagai wadah yang banyak menerima aspirasi langsung dari masyarakat, GNB memandang penting untuk melakukan konfirmasi informasi tersebut kepada Megawati, yang dinilai memiliki rekam jejak dan pengalaman politik yang sangat panjang di tanah air.
“Kami di GNB menerima banyak masukan dari masyarakat. Karena itu kami perlu mengonfirmasi apakah informasi-informasi yang kami miliki ini juga dimiliki oleh Ibu Megawati selaku tokoh yang memang sudah memiliki asam garam pengalaman yang sangat panjang dalam hidup di dunia politik ini,” pungkas Lukman.
Adapun pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting GNB, di antaranya Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Q. Wahid, Pendeta Gomar Gultom, Romo Franz Magnis Suseno SJ, Karlina R. Supelli dan Laode M. Syarif
Turut hadir pula mantan Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara, Andi Widjajanto (Lab45), akademisi Francisia Seda, serta Pendiri dan Penasihat Nalar Institute Yanuar Nugroho.











