Opini  

Guru Besar, Produk Lokal, dan Drama Nasional yang Sering Salah Panggung

Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Guru Besar. (Dok. Ist)

Maka pengukuhan guru besar Untan perlu kita baca sebagai perlawanan halus terhadap mental inferior itu. Kalbar tidak boleh hanya menjadi halaman belakang peta nasional. Kalbar punya hutan, sungai, perbatasan, biodiversitas, energi, mineral, pangan, budaya, dan manusia. Semua itu bukan bahan mentah untuk diekstraksi saja. Semua itu juga bahan pikir, bahan riset, dan bahan kebijakan. Kalau Untan memperkuat guru besarnya, Kalbar sedang menambah daya tawar. Ini leverage. Bukan gaya-gayaan akademik, tetapi modal untuk berbicara lebih tegas dalam forum pembangunan.

Respons publik terhadap acara seperti ini biasanya hangat, tetapi cepat lewat. Hari ini tepuk tangan. Besok unggahan foto. Lusa lupa. Padahal, yang penting justru setelah toga disimpan. Apa risetnya masuk kebijakan? Apa pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi? Apa dunia usaha mau menindaklanjuti? Apa media mau mengangkat substansi, bukan hanya seremoni? Jangan sampai guru besar hanya menjadi berita satu hari, lalu tenggelam oleh gosip pejabat dan komentar netizen yang merasa paling ahli setelah membaca judul.

Refleksi moralnya sederhana. Hukum mengajarkan batas. Ilmu mengajarkan dasar. Media sosial seharusnya mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar keberanian mengetik. Etika publik menuntut kita menghargai karya, bukan hanya memuji setelah berhasil. Kalau bangsa ini serius ingin maju, jangan tunggu karya lokal divalidasi orang luar. Jangan tunggu kampus daerah dipuji pusat baru dianggap penting. Jangan tunggu profesor berbicara dalam bahasa asing baru kita percaya bahwa pikirannya bernilai.

Akhirnya, pengukuhan guru besar Untan bukan sekadar acara akademik. Ia cermin kecil bagi Indonesia. Kita ini bangsa yang kaya ilmu, tetapi kadang miskin penghargaan. Kita punya banyak ahli, tetapi sering kalah oleh orang keras bersuara. Kita punya kampus daerah yang kuat, tetapi sering sibuk menunggu panggung pusat. Jadi, setelah sembilan guru besar dikukuhkan, tugas berikutnya jelas: jangan biarkan ilmu hanya berfoto manis di backdrop biru. Biarkan ia turun ke bumi, masuk kebijakan, menjaga hutan, memperbaiki sekolah, menguatkan hukum, dan menata masa depan.

Kalau tidak, wak, kita hanya akan menjadi bangsa yang rajin mengukuhkan guru besar, tetapi malas mendengarkan ilmunya. Itu bukan kemajuan. Itu cuma seremoni dengan pendingin ruangan.

Oleb: Gusti Hardiansyah
(GuruBesarUniversitasTanjungpura, KetuaICMIOrwilKalbar)