4 Tantangan Dihadapi Industri Manufaktur, Berikut Penjelasan Kemenperin

“Kemarin juga ada kenaikan harga BBM non-subsidi. Nah, pada konsumen produk industri yang biasanya mengkonsumsi BBM non-subsidi, berarti kan ada tekanan pada pengeluaran rumah tangganya. Nah, itu menyebabkan ruang daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur itu juga berkurang. Meskipun kami tetap optimis bahwa itu akan bisa tetap terkendali ke depan,” ujarnya.

Keempat, kenaikan pesimisme pelaku usaha dalam enam bulan ke depan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%. Tingkat optimisme pelaku usaha terpantau berada di level 68,6% atau turun 1,3% dibanding bulan sebelumnya.

Tekanan industri beriringan dengan kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor.

“Kami terus memantau kondisi manufaktur melalui Indeks Kepercayaan Industri (IKI) untuk mendeteksi subsektor yang menghadapi tantangan maupun yang masih tumbuh positif,” ujarnya.

Febri Hendri Antoni Arief mengemukakan jika ditemukan industri yang mengalami tekanan berat, maka Kemenperin akan memanggil atau mendatangi perusahaan terkait guna mengetahui persoalan yang dihadapi, khususnya dari sisi produksi.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai bentuk dukungan sesuai kewenangan kemenperin dan PHK merupakan langkah terakhir yang seharusnya dihindari.

Berbagai mitigasi masih bisa dilakukan, mulai dari penyelesaian persoalan bahan baku, teknologi, hingga aspek pendanaan, meski masalah internal perusahaan seperti sengketa keuangan tetap berada di luar kewenangan pemerintah.

“Kalau soal ketenagakerjaan bukan di kami. Terkait produksi dan kalau misalnya ada faktor-faktor produksi yang mengganggu kami akan menawarkan bantuan. Bantuan apa dari Kemenperin yang bisa kami lakukan atau kami berikan pada industri terkait agar gangguan pada proses produksi itu bisa teratasi dengan baik,” ujarnya. (adm)