Fokus Pasar: Diplomasi AS-Iran di Qatar
Sentimen pelaku pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Qatar.
Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa utusan AS di Doha saat ini tidak langsung menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan pihak Iran.
Kedua belah pihak saat ini berfokus pada pembicaraan teknis di balik layar.
Namun, ketidakpastian ini membuat para investor tetap bersikap waspada dan memantau ketat situasi di jalur logistik vital, Selat Hormuz, karena setiap gesekan sekecil apa pun dapat langsung memantik volatilitas harga.
Rekor Produksi AS dan Proyeksi Surplus 2027
Selain faktor geopolitik, tekanan pada harga minyak juga dipicu oleh faktor fundamental, yaitu melimpahnya pasokan global.
Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration (EIA) mengungkapkan bahwa produksi minyak mentah AS sukses mencetak rekor bulanan baru, mencapai 13,93 juta barel per hari pada April 2026.
Lonjakan produksi ini terjadi setelah para produsen AS memacu pompa minyak mereka demi memanfaatkan momentum kenaikan harga saat konflik Iran memanas beberapa waktu lalu.
Dalam jangka menengah, kondisi kelebihan pasokan ini diproyeksikan masih akan membayangi pasar.
Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami surplus pasokan sekitar 4,8 juta barel per hari pada tahun 2027, yang berpotensi terus menekan harga minyak dalam jangka menengah.
Kini, fokus perhatian pasar tertuju pada rilis laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA.
Para analis memproyeksikan stok minyak mentah AS menyusut sekitar 4,5 juta barel untuk pekan yang berakhir 26 Juni.
Jika prediksi tersebut akurat, maka AS akan mencatatkan penurunan persediaan minyak mentah selama 10 pekan berturut-turut—sebuah rekor beruntun yang terakhir kali terjadi pada Januari 2018.
Baca Juga: Iran Klaim Tutup Selat Hormuz, AS Langsung Membantah: Ketegangan Baru Jelang Negosiasi Swiss










