Darurat Narkoba, Mustahil Diberantas Saat Oknum Polisi Banyak Menjadi Beking

Darurat Narkoba, Mustahil Diberantas Saat Oknum Polisi Banyak Menjadi Beking/(Foto/@ilustrasi)

Ibarat setetes tinta hitam dalam segelas susu, kerusakan reputasi menyebar jauh lebih cepat dibanding kabar baik.

Di sisi lain, Polri mengidentifikasi ratusan hingga ribuan kampung narkoba di berbagai daerah Indonesia. Angkanya bervariasi dalam berbagai program pemetaan, berkisar 228 hingga sekitar 2.900 lokasi. Sebanyak 118 di antaranya diklaim telah dipulihkan.

Tetapi masyarakat melihat persoalan lebih rumit. Mengapa narkoba masih bisa beredar dari balik tembok penjara?

Lapas Cipinang, Kerobokan, hingga Nusakambangan pernah diberitakan menjadi titik pengendalian jaringan narkotika dari balik jeruji. Overkapasitas lembaga pemasyarakatan mencapai sekitar 90 persen. Lebih dari separuh penghuninya merupakan narapidana kasus narkoba, sekitar 150 ribu orang. Telepon seluler ilegal, jaringan komunikasi tersembunyi, hingga dugaan keterlibatan oknum terus menjadi pekerjaan rumah yang berulang.

Inilah ironi yang membuat masyarakat menggeleng kepala. Di luar penjara ada razia. Di dalam penjara ada transaksi. Di luar ada perang terhadap narkoba. Di dalam, jaringan lama kadang tetap bernapas.

Tidak adil menyimpulkan, seluruh aparat terlibat. Justru banyak polisi menjadi korban dalam perang ini. Katingan menjadi bukti paling menyayat, masih ada anggota mempertaruhkan nyawa ketika menjalankan tugas.

Namun publik juga berhak mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali, mengapa skandal demi skandal terus muncul, sementara jaringan narkoba seolah selalu menemukan jalan baru?

Mungkin inilah musuh terbesar pemberantasan narkoba saat ini. Bukan hanya sabu. Bukan hanya bandar. Melainkan krisis kepercayaan.

Karena dalam perang sepanjang apa pun, peluru mungkin bisa dihabiskan. Bandar bisa ditangkap. Kampung narkoba bisa digerebek. Tetapi ketika kepercayaan masyarakat mulai habis, kemenangan sebesar apa pun akan selalu terdengar seperti tepuk tangan di ruangan kosong.

Tragedi Sungai Katingan seharusnya menjadi pengingat, perang melawan narkoba tidak cukup dimenangkan dengan statistik. Ia hanya akan dipercaya publik apabila dibarengi keberanian membersihkan siapa pun yang terbukti menyalahgunakan kewenangan, tanpa pandang pangkat, jabatan, ataupun seragam. Jika tidak, setiap konferensi pers akan kembali disambut pertanyaan ama, apakah kita sedang menyaksikan kemajuan, atau hanya episode baru dari persoalan yang belum benar-benar selesai?

Penulis: Rosadi Jamani (Jurnalis Senior, Ketua Satu Pena Kalbar)