Padahal tidak demikian.
Ada ucapan yang memang perlu dijawab.
Ada tuduhan yang harus diluruskan.
Ada informasi palsu yang perlu dikoreksi.
Namun ada juga provokasi yang justru akan semakin besar jika dilayani.
Ketika seseorang melemparkan pernyataan hanya untuk memancing emosi, memberikan respons emosional berarti memberikan apa yang ia inginkan.
Kita sering lupa bahwa emosi adalah bahan bakar terbesar dalam debat kusir.
Semakin marah seseorang, semakin sulit ia berpikir secara jernih.
Ketika emosi mengambil alih, argumen yang sebenarnya kuat pun dapat disampaikan dengan cara yang buruk. Sebaliknya, argumen yang lemah dapat terasa kuat hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan.
Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam perdebatan adalah kemampuan menjaga kepala tetap dingin.
Tidak perlu membalas setiap kalimat.
Tidak perlu menjelaskan diri kepada semua orang.
Tidak perlu membuktikan bahwa kita benar kepada mereka yang memang tidak ingin menerima penjelasan.
Ada kalanya cukup mengatakan:
“Kita memiliki pandangan yang berbeda.”
Kemudian selesai.
Perdebatan Sehat Tetap Dibutuhkan
Namun, kita juga harus berhati-hati agar kritik terhadap “debat kusir” tidak membuat masyarakat menjadi takut berdebat.
Sebab, diam terhadap semua persoalan juga bukan solusi.
Bangsa yang sehat justru membutuhkan perdebatan.
Perdebatan tentang korupsi harus dilakukan.
Perdebatan mengenai kebijakan publik harus dilakukan.
Perdebatan tentang pendidikan harus dilakukan.
Perdebatan mengenai masa depan bangsa harus dilakukan.
Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan masyarakat.
Yang harus dihindari bukan perbedaannya, melainkan cara kita memperlakukan perbedaan tersebut.
Debat sehat memiliki beberapa ciri.
Pertama, ada persoalan yang jelas.
Kedua, masing-masing pihak memiliki kesempatan berbicara.
Ketiga, argumen didukung alasan atau bukti.
Keempat, seseorang bersedia mengakui jika dirinya keliru.
Kelima, tujuan akhirnya adalah mendapatkan pemahaman yang lebih baik.
Sebaliknya, debat kusir biasanya tidak memiliki titik akhir karena tidak ada satu pun pihak yang bersedia mengubah posisi, bahkan ketika bukti sudah diberikan.
Maka sebenarnya perbedaan terbesar antara debat sehat dan debat kusir bukan terletak pada seberapa keras seseorang berbicara, melainkan pada seberapa terbuka seseorang menerima kemungkinan bahwa dirinya salah.
Berani Mengatakan “Saya Salah”
Menurut saya, kalimat paling sulit dalam sebuah perdebatan bukanlah “Kamu salah”.
Kalimat paling sulit adalah:
“Saya mungkin keliru.”
Diperlukan kerendahan hati untuk mengucapkannya.
Ego manusia sering membuat pengakuan kesalahan terasa seperti kekalahan. Padahal sebenarnya tidak demikian.
Mengakui kesalahan adalah tanda bahwa seseorang lebih mencintai kebenaran daripada harga dirinya sendiri.
Orang yang mampu mengatakan “saya salah” sebenarnya sedang memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada perdebatan: ia memenangkan dirinya sendiri.
Karena itu, kualitas seseorang tidak seharusnya diukur dari seberapa sering ia berhasil membuat orang lain terdiam.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa sering ia mampu memperbaiki dirinya setelah mengetahui bahwa pendapatnya keliru.
Sebab, manusia yang tidak pernah mau mengakui kesalahan akan terus hidup dalam kesalahan yang sama.
Belajar Meninggalkan Perdebatan yang Tidak Berguna
Ilustrasi “Debat Kusir” pada akhirnya bukan sekadar gambar tentang dua orang yang berdebat.
Ia adalah cermin.
Kita dapat melihat diri sendiri di dalamnya.
Berapa kali kita berdebat hanya karena tidak ingin kalah?
Berapa kali kita membalas komentar seseorang meskipun sebenarnya tidak perlu?
Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membuktikan sesuatu kepada orang yang tidak akan pernah percaya?
Dan berapa banyak hubungan yang menjadi renggang hanya karena kita terlalu sibuk mempertahankan pendapat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi bahan introspeksi.
Sebab, hidup terlalu singkat jika seluruh energi kita digunakan untuk memenangkan perdebatan.
Ada keluarga yang perlu kita bahagiakan.
Ada pekerjaan yang perlu diselesaikan.
Ada ilmu yang perlu dipelajari.
Ada kesalahan yang perlu diperbaiki.
Ada karya yang perlu dibuat.
Ada kehidupan yang harus dijalani.
Maka jangan sampai kita menghabiskan sebagian besar tenaga hanya untuk memperdebatkan sesuatu yang pada akhirnya tidak mengubah apa pun.
Pada akhirnya, debat kusir bukan sekadar persoalan tentang perdebatan yang tidak menghasilkan kesimpulan.
Ia adalah gambaran tentang manusia yang kehilangan kemampuan untuk menentukan mana yang penting dan mana yang tidak penting.
Kita hidup di zaman ketika setiap orang memiliki ruang untuk berbicara. Media sosial membuat setiap pendapat dapat tersebar dalam hitungan detik. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan berbicara memang penting.
Tetapi kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara juga sama pentingnya.
Kita perlu belajar bahwa tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran.
Tidak semua bantahan membutuhkan balasan.
Tidak semua orang harus diyakinkan.
Dan tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Jika sebuah perdebatan membuat kita mendapatkan pengetahuan baru, lakukan.
Jika sebuah perdebatan membantu memperbaiki kebijakan, perjuangkan.
Jika sebuah perdebatan membela orang yang diperlakukan tidak adil, jangan diam.
Tetapi jika sebuah perdebatan hanya bertujuan membuat ego merasa lebih tinggi, mungkin sudah waktunya kita berhenti.
Sebab kemenangan terbesar dalam sebuah perdebatan bukanlah ketika lawan kehabisan kata-kata.
Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengendalikan ego sendiri.
Dan mungkin, itulah pesan terdalam dari ilustrasi tersebut.
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, manusia tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berbicara.
Kita juga membutuhkan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus berbicara, apa yang harus dibicarakan, kepada siapa kita perlu menjelaskan, dan kapan kita harus memilih diam.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita selalu benar.
Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang semakin bijaksana dalam membedakan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup ditinggalkan.[dit]











