MBG Seperti Dipaksakan

Ambisi MBG Jangan Sampai Menjadi Mesin yang Merusak Generasi Bangsa/ilustrasi

Kadang-kadang keberanian terbesar pemerintah bukan melanjutkan program.

Tetapi berani berkata: tunggu dulu, ada yang harus kami perbaiki.

Program MBG bukan perlombaan siapa paling cepat membagikan makanan.

Ini menyangkut tubuh manusia.

Lebih khusus lagi, tubuh anak-anak.

Jadi kalau ada yang menganggap kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan terhadap program, logikanya perlu diperiksa ulang.

Saya bisa mendukung tujuannya sekaligus mengkritik caranya.

Saya bisa setuju anak-anak mendapatkan makanan bergizi sekaligus meminta agar makanan tersebut benar-benar aman.

Itu bukan kontradiksi.

Itu namanya akal sehat.

Sebab apa gunanya makanan gratis jika setelah disantap orang tua malah sibuk mencari nomor ambulans?

Apa gunanya slogan bergizi kalau keamanan pangan masih menjadi tanda tanya?

Dan apa gunanya negara hadir kalau anak harus sakit lebih dahulu untuk membuktikan bahwa sistem pengawasan ternyata belum cukup kuat?

Jangan ukur keberhasilan MBG hanya dari jumlah porsi yang dibagikan. Ukur dari berapa banyak anak yang bisa makan, kenyang, lalu pulang dengan sehat.

Sesederhana itu.

Kalau pemerintah memang yakin sistemnya sudah kuat, buktikan dengan pengawasan yang transparan.

Kalau belum kuat, akui.

Kalau perlu diperbaiki, perbaiki.

Kalau perlu dijeda, jeda.

Tidak ada negara yang runtuh hanya karena pemerintah berani mengakui sebuah sistem membutuhkan pembenahan.

Yang berbahaya justru ketika sebuah program terus dipaksakan berjalan sementara masalah yang sama berulang.

Karena anak-anak bukan angka dalam laporan.

Mereka bukan target capaian.

Mereka bukan sekadar statistik keberhasilan program.

Mereka adalah manusia.

Dan kalau negara belum mampu memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman, maka satu pertanyaan Si Fakta patut direnungkan:

Apakah kita sedang membangun program untuk memberi makan anak-anak, atau sedang membangun sistem yang baru belajar setelah anak-anak menjadi korban?

Jangan tunggu jawaban itu datang dari ruang IGD.

Karena kalau keselamatan baru dibahas setelah korban berjatuhan, berarti negara bukan sedang mencegah masalah.

Negara hanya sedang belajar dari luka.

Dan dalam urusan anak-anak, harga sebuah pelajaran tidak boleh dibayar dengan tubuh mereka.[dit]