Bertabur Survei Politik yang Lepas dari Suara Masyarakat

FAKTANASIONAL.NET – Kalau tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo di angka 65,2%, maka sangat mustahil tingkat keterpilihannya (elektabilitas) hanya di angka 9,8%. Itulah perbedaan mencolok antara hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) dengan hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI), yang dilakukan pada waktu yang relatif sama dan metodologi yang relalif sama pula, dalam rangka dua tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Lembaga survei SMRC yang digawangi oleh Saiful Mujani ini melakukan survei dari tanggal 1-10 Oktober, sementara lembaga survei PPI yang digawangi oleh Adi Prayitno melakukan survei dari tanggal 26 September hingga 6 Oktober. Artinya, waktu pelaksanaan surveinya relatif sama. Dan metodologinya juga relatif sama, multi stage random sampling. Bedanya sedikit saja hanya pada pelaksanaan, tapi mestinya tidak terlalu signifikan perbedaan hasilnya.

Empat kali Presiden Prabowo mengikuti Pilpres, sekali menjadi pendamping Megawati pada Pilpres 2009, di mana SBY saat itu sedang tinggi-tingginya, keterpilihan Prabowo masih bisa di angka 26%. Masak saat ini, setelah menjadi Presiden, dengan program-program yang menyentuh rakyat, surveinya hanya 9,8%? Lebih tinggi pula dari Anies Baswedan dan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Sungguh tidak masuk akal, secanggih apa pun hasil survei SMRC yang dilakukan itu.

Yang agak mendekati hasil survei SMRC dan PPI itu hanya pada tingkat responden yang berpendidikan tinggi, yakni Sarjana (S1) ke atas. Kalau hasil survei itu di-crosstab hanya pada tingkat pendidikan, bisa jadi hasilnya relatif sama. Itupun tidak setajam itu pula jatuhnya keterpilihan Prabowo di angka 9,8% seperti dalam survei SMRC itu. Survei PPI di tingkat Sarjana, memang tingkat kepuasan Prabowo jatuh di angka 43,2%, tapi itu tidak terlalu jatuh sampai ke dasar.