Opini  

GAGALNYA “TEROBOSAN” BAHLIL

DPR mendesak pemerintah memprioritaskan penyelesaian RUU Migas dan mengevaluasi sengkarut kuota batubara nasional.(Dok. Ist)

FAKTANASIONAL.NET – Pada pertengahan Februari lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa swasembada energi membutuhkan “terobosan” dan ketergantungan impor menunjukkan kegagalan.

Namun kenyataannya, justru ia sendirilah yang mendorong impor migas besar-besaran dari Amerika Serikat senilai USD 15 miliar per tahun. Bahkan, ide ini telah dilontarkan Bahlil sejak hampir satu tahun yang lalu.

Alih-alih mengurangi ketergantungan terhadap impor, kebijakan Bahlil malah memperkuatnya.

Swasembada energi seharusnya berarti Indonesia bisa memproduksi lebih banyak sendiri, menggunakan energi lebih efisien, dan mendiversifikasi sumber energi.

Mengalihkan pasokan dari satu negara ke negara lain bukan swasembada, hanya memindahkan ketergantungan.

Apalagi hampir setengah dari total impor migas Indonesia akan berasal dari AS, yang berlawanan dengan prinsip diversifikasi sumber dan meningkatkan risiko jika terjadi gangguan pasokan atau masalah geopolitik.

Dari sisi biaya, kebijakan ini juga kurang efisien. Selama ini Indonesia banyak mengimpor dari Singapura karena jaraknya dekat, ongkos pengiriman rendah, waktu pengiriman cepat, dan risiko logistik kecil.