Opini  

Jangan Biarkan Petani Menjadi Korban Tata Kelola Baru SDA

Jangan Biarkan Petani Menjadi Korban Tata Kelola Baru SDA/(Ilustrasi/@AI)

FAKTANASIONAL.NET – Presiden Prabowo Subianto sedang mengirim pesan besar kepada publik: negara tidak boleh terus menjadi penonton di tengah derasnya ekspor sumber daya alam. Melalui Peraturan Pemerintah tentang tata kelola ekspor komoditas SDA, negara ingin mengambil kembali kendali atas rantai perdagangan yang selama ini dinilai terlalu banyak memberi ruang pada kebocoran, spekulasi, dan dominasi kelompok tertentu.

Dalam perspektif nasionalisme ekonomi, gagasan itu sesungguhnya baik, bahkan penting. Negara memang harus hadir mengamankan nilai tambah SDA untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Namun, di tengah tepuk tangan terhadap semangat penguatan negara itu, ada satu pertanyaan yang tidak boleh diabaikan: apakah petani kecil akan ikut menikmati manfaatnya, atau justru menjadi korban pertama dari transisi kebijakan ini?

Baca Juga: Percakapan Fenty Bocor: Ada Dugaan Penggiringan Opini Benturkan Nancy dengan Kader NasDem dalam Sengketa Aset

Di daerah penghasil sawit seperti Kalimantan Barat, kegelisahan itu terasa nyata. Petani sawit rakyat tidak menjual CPO ke pasar internasional. Mereka hanya menjual TBS (tandan buah segar) kepada pabrik kelapa sawit (PKS). Posisi mereka berada di ujung rantai paling lemah. Ketika tata niaga ekspor berubah, yang paling cepat menerima tekanan biasanya bukan eksportir besar, melainkan harga TBS di tingkat petani.

Sejarah ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa setiap perubahan tata niaga yang tidak disiapkan dengan matang hampir selalu berujung pada gejolak harga di lapangan. Saat rantai distribusi mengalami penyesuaian, perusahaan besar masih memiliki cadangan modal, akses informasi, dan kemampuan bertahan. Petani kecil tidak memiliki kemewahan itu.

Mereka hidup dari panen mingguan. Harga turun beberapa ratus rupiah saja sudah dapat mengganggu cicilan, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan harian keluarga.

Karena itu, kegelisahan petani Kalbar tidak boleh dianggap sebagai sikap anti pemerintah. Mereka hanya takut menjadi korban dari kebijakan yang sesungguhnya dibuat atas nama kepentingan nasional. Ketakutan itu masuk akal, sebab struktur ekonomi sawit kita memang belum sepenuhnya berpihak pada petani.

Posisi tawar petani masih lemah di hadapan PKS, koperasi belum kuat, hilirisasi daerah belum berkembang optimal, sementara ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah masih sangat tinggi.

Padahal, tujuan besar kebijakan ini sangat mulia. Negara ingin meningkatkan penerimaan negara, memperbaiki tata kelola, memperkuat devisa, dan memastikan kekayaan alam Indonesia tidak hanya dinikmati segelintir pihak. Banyak negara kaya sumber daya berhasil membangun kemakmuran melalui kontrol negara yang kuat terhadap komoditas strategis.

Saudi Arabia, Qatar, hingga Malaysia memperlihatkan bahwa SDA dapat menjadi fondasi pendidikan, kesehatan, dan pembangunan nasional.

Tetapi ada satu pelajaran penting dari negara-negara tersebut: kontrol negara harus dibarengi perlindungan terhadap produsen rakyat. Jangan sampai negara menjadi kuat di atas melemahnya petani kecil. Sebab jika nilai tukar petani jatuh, maka yang terguncang bukan hanya ekonomi desa, tetapi juga stabilitas sosial daerah.