FAKTANASIONAL.NET – Sebuah dokumen internal yang bocor baru-baru ini mengungkap manuver finansial bernilai fantastis dari Open Society Foundations (OSF), lembaga filantropi bentukan investor Amerika Serikat, George Soros.
Dikutip pada 8/6, dari laporan investigatif dari media The Sunday Guardian, jaringan global tersebut menyalurkan dana sebesar USD 1.800.000 untuk membiayai program masyarakat sipil dan advokasi demokrasi di Indonesia periode 2026–2028 melalui perantara Yayasan Kurawal di Jakarta.
Meretas Narasi “Raja Abu” dan Fokus Pembiayaan
Dari total anggaran multi-tahun tersebut, OSF menanggung porsi 80 persen, sementara 20 persen sisanya didukung oleh Yayasan Demokrasi Taiwan.
Alokasi dana ini dipecah ke dalam empat pilar strategis: mobilisasi akar rumput (USD 500.000), penguatan kepemimpinan pemuda (USD 500.000), pemantauan proses kebijakan (USD 500.000), serta pelibatan kelompok aktivis akademis dan tokoh agama (USD 300.000).
Menariknya, rencana strategis Kurawal secara eksplisit menyoroti dinamika politik nasional. Mereka melabeli sepuluh tahun masa jabatan Joko Widodo sebagai “dekade pembongkaran demokrasi”.
Lebih lanjut, dokumen itu bersiap menghadapi masa kepresidenan Prabowo Subianto melalui kerangka kerja yang mereka sebut sebagai “Raja Abu. Bersiap untuk Tahun-Tahun Prabowo”.
Kelima jalur strategis mereka mencakup perluasan keterlibatan warga di Papua, membangun narasi tata pemerintahan demokratis, hingga mengkonsolidasikan perlawanan di tingkat lokal.
Guyuran Hibah Ekosistem Sipil dan Kampus
Laporan jurnalis Abhinandan Mishra turut membongkar rincian distribusi hibah ini kepada berbagai mitra lokal. Yayasan Islami Media Ramah, misalnya, menerima pendanaan Rp 1.600.000.000 untuk program NAHDHAH.
Proyek berdurasi setahun ini membidik ulama progresif dari basis pesantren, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah guna memperkuat wacana hak asasi manusia.
Selain itu, Yayasan Hamalatul Ardhi al Murtadho mendapatkan Rp 217.400.000 untuk menyelenggarakan sekolah ekologi politik antara November 2025 hingga Mei 2026.
Sektor akademis juga menjadi sasaran; Asia Research Centre di Universitas Indonesia mengamankan hibah Rp 1.200.000.000 untuk riset enam bulan yang mengkaji hubungan perjuangan kelas pekerja dengan gerakan pro-demokrasi Asia Tenggara.[dit]











