Misteri Kematian Linda Slaten di Lakeland 1981 Terungkap Setelah 38 Tahun

Linda Slaten, saat umy 31 tahun/(CBSNEWS)

SIAPKAN kopi hangat dan camilan favoritmu. Setiap malam Jumat, Si Fakta akan menghadirkan cerita horor nyata, investigasi misteri, serta kisah-kisah yang mengundang bulu kuduk merinding. Siapa tahu, cerita berikutnya justru berasal dari daerahmu sendiri.

Mari ikuti kisahnya sampai akhir, dan jangan lupa terus ikuti FAKTANASIONAL.NET.

Lanjut ke cerita| Kasus pembunuhan seorang ibu tunggal di Lakeland, Florida, Amerika Serikat, akhirnya menemukan titik terang setelah hampir empat dekade menjadi teka-teki.

Perkara yang sempat berstatus cold case itu berhasil dipecahkan berkat perkembangan teknologi forensik modern yang mampu mengungkap identitas pelaku melalui analisis DNA dan penelusuran silsilah genetik (genetic genealogy).

Penyelidikan yang berlangsung selama 38 tahun itu berakhir dengan penangkapan Joseph Clinton “Joe” Mills, sosok yang selama ini dikenal sebagai pelatih football putra korban.

Fakta tersebut mengejutkan banyak pihak karena Mills selama bertahun-tahun tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga korban tanpa pernah dicurigai sebagai pelaku.

Pembunuhan terhadap Linda Slaten, seorang ibu berusia 31 tahun, terjadi pada 4 September 1981. Selama puluhan tahun, berbagai dugaan sempat mengarah kepada mantan suami, mantan kekasih, hingga orang-orang terdekat korban.

Namun seluruh penyelidikan berulang kali menemui jalan buntu hingga teknologi forensik akhirnya membuka tabir kasus tersebut.

Malam Terakhir Linda Slaten Sebelum Ditemukan Tewas di Rumahnya

Linda Slaten merupakan ibu tunggal yang membesarkan dua putranya, Jeff Slaten dan Tim Slaten, setelah berpisah dari suaminya, Frank Slaten. Demi mendapatkan dukungan keluarga, Linda memilih kembali menetap di Lakeland, Florida.

Kehidupan mereka jauh dari kata mewah. Linda bekerja keras menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara bantuan pemerintah menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

Meski hidup dalam keterbatasan, keluarga dan kerabat mengenalnya sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan selalu mengutamakan kedua anaknya.

Pada sore 3 September 1981, suasana rumah sempat diwarnai pertengkaran kecil antara Linda dan putra sulungnya, Jeff, yang saat itu berusia 15 tahun. Perselisihan bermula ketika Jeff kesal karena diminta menunggu adiknya pulang sebelum makan malam bersama.

Dalam emosi sesaat, Linda meminta Jeff keluar rumah apabila tidak bersedia mengikuti aturan keluarga. Merasa tersinggung, Jeff kemudian mengayuh sepeda menuju rumah neneknya yang masih berada di sekitar lingkungan tersebut.

Tak lama setelah itu, Linda menghubungi ibunya melalui telepon. Ia memberi tahu kemungkinan Jeff akan datang ke rumah sang nenek untuk makan malam. Dalam percakapan tersebut, ibunya juga menyampaikan bahwa terdapat surat kiriman dari mantan suami Linda.

Menurut laporan CBS News, surat-surat semacam itu bukan sesuatu yang baru. Setelah perceraian mereka, Frank Slaten diketahui kerap mengirimkan surat bernada ancaman sekaligus menyalahkan Linda atas berbagai persoalan hidup yang dialaminya.

Meski isi surat tersebut membuat keluarga khawatir, ancaman itu selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar diwujudkan.

Selain persoalan dengan mantan suami, Linda juga baru mengakhiri hubungan asmara dengan Brandon Fowler hanya dua hari sebelum pembunuhan terjadi.

Keluarga menyebut Brandon berubah menjadi pribadi yang sangat posesif. Ia sering menuduh Linda memiliki pria lain dan bahkan diduga beberapa kali mengawasi aktivitas korban secara diam-diam.

Sementara itu, putra bungsunya, Tim Slaten yang berusia 12 tahun, pulang dari latihan football dan diantar langsung oleh pelatihnya, Joseph “Joe” Mills. Saat itu, tidak ada seorang pun yang menganggap kehadiran Mills sebagai sesuatu yang mencurigakan karena ia memang rutin mengantar Tim pulang usai latihan.

Pada malam harinya, Linda bersama Tim menghadiri acara penyambutan tetangga baru di lingkungan tempat tinggal mereka. Jeff yang sebelumnya pergi akhirnya pulang ke rumah setelah berdamai dengan ibunya.

Sekitar pukul 23.00 waktu setempat, Linda dan Tim kembali ke rumah. Jeff meminta maaf atas pertengkaran yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Linda pun memaafkannya. Setelah saling berpelukan, ketiganya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu menjadi saat terakhir Linda menghabiskan waktu bersama kedua putranya.

Keesokan paginya, kakak Linda, Judy Butler, datang seperti rutinitas biasanya untuk menikmati kopi bersama sang adik. Namun berkali-kali mengetuk pintu rumah tidak mendapat jawaban.

Judy kemudian melihat ada sesuatu yang janggal. Kasa pada salah satu jendela kamar Linda telah terlepas. Saat mengintip ke dalam melalui jendela, ia melihat tubuh adiknya terbaring dalam posisi tidak wajar.

Tak lama kemudian Judy menyadari Linda telah meninggal dunia dan segera meminta bantuan.

Polisi segera datang ke lokasi dan memasang garis pembatas. Penanganan perkara dipercayakan kepada Detektif Edgar Pickett.

Hasil olah tempat kejadian perkara menunjukkan Linda meninggal akibat dicekik menggunakan gantungan baju berbahan kawat yang berasal dari dalam rumahnya sendiri.

Selain itu, korban juga mengalami kekerasan seksual. Bekas luka di leher memperlihatkan bahwa Linda sempat memberikan perlawanan sebelum akhirnya kehilangan nyawa.

Yang membuat penyidik kebingungan adalah kondisi rumah tetap relatif rapi. Tidak ditemukan tanda-tanda perampokan ataupun pintu yang dirusak secara paksa. Barang-barang berharga juga masih berada di tempat semula.

Satu-satunya petunjuk penting saat itu adalah sebuah jejak telapak tangan yang ditemukan pada ambang jendela kamar. Polisi menduga jendela tersebut menjadi jalur keluar-masuk pelaku sehingga sidik telapak tangan segera diamankan sebagai barang bukti.

Sayangnya, kemampuan teknologi identifikasi forensik pada awal 1980-an belum secanggih sekarang sehingga petunjuk tersebut belum mampu mengungkap identitas pembunuh.

Teknologi DNA dan Genetic Genealogy Akhirnya Membongkar Identitas Pelaku

Penyelidikan pada masa itu bergerak ke berbagai arah.

Frank Slaten menjadi salah satu orang pertama yang diperiksa karena riwayat kekerasan dalam rumah tangga serta surat-surat ancaman yang sering dikirim kepada Linda.

Namun hasil pemeriksaan menunjukkan Frank berada di Alabama, sekitar 500 kilometer dari Lakeland, ketika pembunuhan terjadi. Alibinya diperkuat oleh sejumlah saksi sehingga polisi tidak memiliki dasar kuat untuk menetapkannya sebagai pelaku.

Nama Brandon Fowler juga masuk dalam daftar penyelidikan. Hubungan asmara yang baru saja berakhir serta sifat posesifnya membuat polisi memberikan perhatian khusus. Akan tetapi, penyidik kembali menemukan alibi yang dinilai dapat dipertanggungjawabkan.