FAKTANASIONAL.NET – Tim gabungan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda di dua titik kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada Rabu kemarin.
Operasi pemadaman tersebut melibatkan kolaborasi personel Balai TNWK, TNI-Polri, elemen mitra, serta Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra.
“kebakaran hutan tersebut terdeteksi di dua lokasi terpisah dengan karakteristik bentang alam yang berbeda,” kata Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, Kamis (24/9).
Dia melanjutkan Karhutla yang terjadi di dua titik tersebut, pertama terjadi di area Pusat Latihan Gajah (PKG) tepatnya pada lokasi proyek pembangunan kandang gajah jantan, Kecamatan Labuhan Ratu sekitar pukul 11.00 WIB. Untuk titik kedua, lanjut dia, membakar kawasan hutan sekunder di Resor Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah Cabang, tepatnya pada Grid 31 T, 30 U, dan 31 U.
“Titik pertama di area PKG, kobaran api melahap vegetasi semak belukar, ilalang, hingga pohon mentru dengan luasan lahan terdampak sekitar 5 hektare. Untuk titik kedua di Resor Cabang, kebakaran terjadi secara sporadis pada permukaan dan tajuk pohon. Kondisi ini dipicu oleh cuaca panas bersuhu 33 derajat celsius serta embusan angin yang cukup kencang di lapangan,” kata dia.
Untuk menangani titik pertama tersebut, tambah dia, pengerahan puluhan personel gabungan langsung meluncur ke lokasi kejadian sesaat setelah menerima laporan. Untuk pemadaman di area PKG dikerahkan sebanyak 39 personel, yang dipimpin oleh Letda Inf Fuji selaku Pasi Intel YTP 943/DPC dan Letda Ckm Wahid selaku Danton Kesehatan YTP 943/DPC, bersama jajaran Kodim 0429/Lampung Timur, Polhut, serta mitra pekerja lapangan.
“Pergerakan armada pendukung dilakukan sangat cepat dengan waktu tempuh minimal menuju garis api. Jeda kedatangan armada hanya sepuluh menit dari awal informasi kami terima. Kami mengerahkan empat unit kendaraan, terdiri dari dua damkar, satu kendaraan tangki, dan satu kendaraan angkut personel,” terangnya.
Mengenai suplai air di lapangan, Sriyanto menyebut armada pemadam harus mengisi ulang pasokan air berkali-kali untuk memastikan kobaran benar-benar padam. Pasokan air, katanya, habis sebanyak empat tangki damkar setelah diisi ulang secara bertahap dari kendaraan tangki pendamping.











