Opini  

Kapolri Suyudi Tak Usah Pelihara Tukang Jilat

Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto/Fkn

FAKTANASIONAL.NET – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto diharapkan tidak memelihara lingkungan yang dipenuhi pengamat dan organisasi yang terus memberikan apresiasi tanpa penilaian kritis.

Pujian membabi buta berisiko merusak kredibilitas kepemimpinan dan institusi Polri karena mengaburkan persoalan, melemahkan koreksi, serta membuat masyarakat meragukan kejujuran setiap pembelaan yang disampaikan.

Suyudi diharapkan menunjukkan sikap tegas dengan membuka ruang kritik, menanggapi keluhan berdasarkan fakta, dan menempatkan perbaikan pelayanan sebagai dasar membangun kepercayaan.

Kedekatan dengan pimpinan kepolisian tidak boleh menjadi jalan istimewa bagi pemberi pujian untuk memperoleh pengaruh atau mengatasnamakan dukungan masyarakat.

Sebutan “tukang apresiasi” merujuk pada pola penilaian yang selalu berakhir dengan pujian, apa pun tindakan dan hasilnya.

Ketika keberhasilan dipuji, keputusan rutin diagungkan, dan kegagalan terus dibenarkan, masyarakat sulit menemukan standar yang dipakai.

Pengamat kehilangan independensi, sementara organisasi kehilangan fungsi pengawasan yang memberi nilai pada keberadaannya.

Pola tersebut dapat berbalik membebani Kapolri. Apabila pembelaan yang beredar tidak sejalan dengan pengalaman masyarakat, publik dapat melihat pimpinan kepolisian sebagai sosok yang lebih sibuk dipuji daripada mendengar keluhan.

Bahkan prestasi yang benar-benar dicapai berisiko tenggelam dalam kecurigaan karena disampaikan oleh pihak yang terbiasa membenarkan setiap tindakan.

Bahaya lingkungan yang dipenuhi persetujuan dijelaskan Irving Janis melalui teori groupthink. Dorongan menjaga kesepakatan dapat menekan pendapat berbeda, menyisihkan informasi yang mengganggu, dan membentuk keyakinan bahwa kelompok selalu benar.