Fakta Nasional

Jokowi: Kekuasaan Tidak Selamanya (Kan Orang Sudah Pada Tahu?)

FAKTANASIONAL.NET - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa kekuasaan - jabatan bukan sesuatu yang dimiliki seseorang selamanya. Itu dikatakan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke- KH Musyafa…

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 31 August 2026 📖 2 menit
Jokowi: Kekuasaan Tidak Selamanya (Kan Orang Sudah Pada Tahu?)
Presiden RI ke-7 Joko Widodo saat pidato di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke- KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).. Foto: Facebook

FAKTANASIONAL.NET - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa kekuasaan - jabatan bukan sesuatu yang dimiliki seseorang selamanya. Itu dikatakan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke- KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan sebuah petuah Jawa, "Lamun siro sekti, ojo mateni."

Ucapan Budi Arie di Samping Jokowi Dipertanyakan

Artinya, bahwa seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan tidak semestinya menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan ataupun menyakiti orang lain.

Menurut Jokowi, pesan tersebut relevan bagi siapa pun yang tengah berada dalam posisi memiliki kewenangan dan kekuasaan.

Katanya, kekuasaan bersifat sementara. Karena itu, seseorang yang sedang berada di posisi penting tidak seharusnya terlena atau menggunakan jabatan secara berlebihan.

"Karena kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sak (satu) detik. Jabatan itu hanya sampiran, itu yang harus dingat waktu kita memiliki kekuasaan," ucap Jokowi.

Ketika Kekuasaan Mulai Memelihara Sentimen

Menurutnya, orang berkuasa harus sadar bahwa setiap jabatan pada akhirnya akan berakhir. Kekuasaan yang dimiliki seseorang hari ini dapat berpindah kepada orang lain pada waktu berikutnya.

Maka, kekuasaan seharusnya digunakan secara bijaksana dan tidak menjadi alat untuk menekan pihak lain.

Petuah Jawa yang disampaikan Jokowi tersebut juga mengandung pesan moral mengenai bagaimana seseorang semestinya bersikap ketika berada dalam posisi kuat.

Kekuasaan, bukan alasan untuk menghilangkan rasa kemanusiaan ataupun menggunakan kewenangan demi kepentingan pribadi.

Jokowi menyampaikan pesan tersebut di hadapan para jemaah dan masyarakat yang menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul KH Musyafa Ali.

Inti pesan, bahwa kekuasaan menjadi pengingat bahwa jabatan merupakan amanah yang pada waktunya harus ditinggalkan.

Ungkapan bahwa "jabatan itu hanya sampiran" menggambarkan pandangan bahwa kedudukan bukanlah identitas yang melekat selamanya pada seseorang.

Ketika masa jabatan berakhir, yang tersisa adalah rekam jejak serta dampak dari keputusan yang pernah dibuat. Itu sekaligus menempatkan penggunaan kekuasaan sebagai persoalan moral.

Penguasa dituntut untuk tidak menyalahgunakan kekuatan yang dimilikinya, terlebih untuk merugikan atau menjatuhkan orang lain.

Sesungguhnya, pesan ini sudah diketahui semua orang. Bukan hanya kekuasaan, tetapi hidup manusia juga sementara. Tidak bakal selamana. Semua hal ada batas waktunya.

Prediksi Kudeta Oktober 2026 Diungkap Said Didu

Tetapi, mengapa mendadak Jokowi mengatakan hal itu? Apakah ada tujuannya? Apakah ditujukan kepada seserang penguasa? Jawabnya, hanya Jokowi yang tahu. Dan, bisa ditafsirkan beragam oleh masyarakat. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK