Kepemimpinan gerakan beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houthi, yang hingga kini menjadi pemimpin utama Houthi. Dewan Keamanan PBB mencatat Abdul-Malik mengambil alih kepemimpinan setelah kematian Hussein pada 2004.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa Houthi telah menjadi gerakan pemberontak di Yaman jauh sebelum perang dengan Arab Saudi pecah pada 2015.
Pergolakan Arab Spring pada 2011 menjadi titik penting berikutnya. Presiden Ali Abdullah Saleh turun dan digantikan Abdrabbuh Mansur Hadi.
Namun, pemerintahan baru gagal menciptakan stabilitas. Krisis ekonomi dan konflik politik membuat Yaman semakin terpecah.
Houthi kemudian memanfaatkan kekacauan tersebut. Pada September 2014, mereka bersama sekutunya merebut Sana’a, ibu kota Yaman, lalu memperluas pengaruh ke wilayah lain.
Awal 2015, Presiden Hadi melarikan diri dari Sana’a menuju Aden setelah Houthi mengambil alih sejumlah institusi pemerintahan.
Bagi Arab Saudi, perkembangan itu menjadi ancaman strategis karena Yaman berbatasan langsung dengan wilayahnya. Kekhawatiran semakin besar akibat hubungan Houthi dengan Iran, rival utama Riyadh di kawasan.
Presiden Hadi kemudian meminta bantuan negara-negara Teluk dan Liga Arab. Konflik yang semula berakar dari persoalan internal Yaman pun berkembang menjadi pertarungan regional yang hingga kini terus menyisakan ancaman terhadap keamanan Timur Tengah.[dit]











