Tidak lama kemudian, publik mengetahui bahwa posisinya sebagai Menteri Keuangan berakhir dan Suahasil Nazara dilantik menggantikannya.
Sehari setelahnya, Purbaya mengakui bahwa perombakan sekitar 350 pejabat di Kementerian Keuangan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan pencopotannya.
Di sinilah publik perlu berhenti sejenak.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa pencopotan Purbaya dilakukan demi kepentingan industri rokok.
Tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan demikian.
Menghubungkan pergantian Menkeu secara langsung dengan kepentingan GGRM hanya akan mengubah analisis menjadi spekulasi.
Namun, jangan pula menutup mata terhadap sinyal ekonomi yang muncul sesudahnya.
Kebetulan waktunya terlalu dekat untuk diabaikan: Purbaya dicopot, Suahasil masuk, kemudian saham rokok tertekan.
Ditambah sebelumnya muncul perdebatan mengenai beban cukai dan arah kebijakan CHT.
Ini bukan bukti adanya sebuah agenda tersembunyi. Tetapi ini adalah alasan yang sah bagi publik dan investor untuk meminta penjelasan kebijakan yang terang.
Suahasil sendiri menyatakan mandat utamanya adalah menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta memastikan APBN tetap dapat menjalankan program prioritas pemerintah.
Artinya, ujian sebenarnya bukan siapa yang duduk di kursi Menteri Keuangan.
Ujiannya adalah apakah kebijakan fiskal setelah pergantian tersebut mampu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, keberlangsungan industri legal, pemberantasan rokok ilegal, daya beli masyarakat, dan kepastian usaha.
Pemerintah tentu berhak mengganti menteri. Itu hak prerogatif Presiden.
Tetapi pasar juga memiliki hak untuk bertanya.
Jika perubahan pejabat membawa perubahan kebijakan, jelaskan. Jika tidak ada perubahan, tegaskan. Jangan biarkan ketidakpastian menjadi satu-satunya informasi yang beredar.
Sebab dalam ekonomi, ketidakpastian sering kali lebih mahal daripada kenaikan tarif itu sendiri.
Dan bagi Gudang Garam, persoalannya bukan semata-mata apakah Purbaya pergi atau Suahasil datang.
Persoalan besarnya adalah apakah negara akan terus memeras sektor legal untuk mengejar penerimaan, sementara pasar ilegal dibiarkan mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik produk yang patuh aturan.
Kalau jawabannya tidak jelas, wajar bila pasar gelisah.
GGRM yang ambles bukan sekadar angka merah di layar perdagangan. Ia bisa dibaca sebagai pesan sederhana dari pasar: jangan ubah aturan main tanpa menjelaskan ke mana arah permainan.[dit]











