
Haikal menyatakan kekecewaannya karena Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam ternyata belum mampu berbuat banyak di kancah global.
“Pasar masih dikuasi oleh China, kemudian India, Brazil, Amerika Serikat, Turki, Rusia, Prancis. Indonesia berada di urutan 8 dengan pangsa pasar hanya 13 miliar dolar AS,” rincinya.
Sementara itu Dewan Pembina AHC, Prof Dailami Firdaus SH, LLM, MBA mengatakan, kehadiran AHC di UIA merupakan jawaban kebutuhan masyarakat atas jaminan halal atas semua produk yang dikomsumsi.
Bukan saja produk makanan dan minuman tetapi juga kosmetik, obat-obatan, fashion dan lain sebagainya.
“Kita ingin bersinergi dengan pemerintah untuk memberi jaminan produk yang dikomsumsi masyarakat agar benar-benar terjaga kehalalannya,” tutur Prof Dailami yang juga Senator asal Jakarta ini.
Dalam kepengurusan AHC periode 2025-2030 Prof Dailami duduk sebagai Ketua Dewan Pembina. Sementara sebagai Direktur dipegang oleh Ir Syahrir Ika, MM. APU. Sekretaris Dadun Abdul Kohar, SH, MH dan Bendahara Reni Armiati, SE, MM.
Sejumlah akademisi dan intelektual UIA ikut memperkuat dan memperkokoh lembaga ini. Diantaranya ada Rektor UIA Prof DR Masduki Ahmad SH, MM, di Dewan Penasehat. Didampingi oleh Prof Dr Zainulbahar Noor, SE, M.Ec, Komjen Pol (Purn) Dr Boy Rafli Amar, MH, DR H Firdaus Djaelani dan TB Dedy Miing Gumelar.
Sebagai Dewan Pakar diantaranya; DR Hj Syifa Fauzia. Art, DR Abdul Hadi, M.Ed. Kepala Divisi Sertifikasi; Abdul Hamid Lc, M KomI, PhD. Divisi Pendidikan dan Pelatihan; Prof DR Ir Iffah Budiningsih, DR. Misbah Fikrianto, M.Pd M.Si, Divisi Kerjasama; H. Syarif Abdullah AS.
Divisi Sosialisasi; Hj Nurfitria Farhana SE, MM. Divisi Inovasi & Pengembangan DR Efridani Lubis, SH, MH. Divisi Advokasi; Dr Damrah Mamang SH, MH dan Sekretariat; Sunarno, SE, MM.[zul]







