FAKTANASIONAL.NET – Punten warga Bogor, kumaha damang? Izin mau bahas Ketua KPU ente ni. Ternyata kalian selama ini ditipu olehnya. Dengan terpaksa ia dipecat oleh DKPP. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Namanya Muhammad Habibi Zaenal Arifin, keren namanya. Kombinasi akhlak rasulullah dan otak Habibi. Nama yang dulu dielu-elukan bak judul sinetron prime time.
“Pahlawan Demokrasi Turun ke TPS”. Sosok yang katanya lahir bukan sekadar dari rahim ibu, tapi dari rahim idealisme pemilu yang suci, bersih, dan wangi tinta coblosan.
Baca Juga: Edukasi “Judi Pasti Rugi”: Upaya GoPay Berantas Penipuan Berbasis Algoritma
Ia muncul dari Bogor Selatan, menjabat Ketua Panwaslu Kecamatan, posisi yang konon membuatnya hafal setiap sudut bilik suara, setiap lipatan kertas suara, bahkan mungkin dengusan napas pemilih yang ragu mencoblos.
Lalu, Januari 2024, tanpa banyak asap knalpot, ia melesat jadi Ketua KPU Kota Bogor. Roket karier, wak. Dari kecamatan ke singgasana kota. Targetnya pun tak main-main, partisipasi pemilih di atas 90 persen.
Ambisi setinggi langit, seberani janji kampanye yang bilang “banjir bisa hilang dengan doa dan baliho”.
Netralitasnya? Jangan ditanya. Katanya murni. Independen maksimal. Riwayat organisasi di luar lembaga pemilu, nihil. Nol. Kosong. Lebih kosong dari dompet rakyat tanggal tua.
Tak tercatat di HMI, PMII, KNPI, apalagi partai politik atau LSM, pokoknya bersih, bening, suci, seperti air galon baru dibuka. Biodata pribadi pun misterius. Tempat tanggal lahir? Raib. Pendidikan? Kabur.
Istri dan anak? Level rahasia negara. Seakan-akan beliau bukan manusia biasa, tapi tokoh komik yang identitasnya disimpan rapat demi keselamatan semesta demokrasi.
Aktivitasnya? Jangan ragukan. Rapat koordinasi dihadiri. Sosialisasi Pilkada damai dijalani dengan wajah penuh integritas. Pemusnahan surat suara rusak dilakukan khidmat, seolah sedang ritual sakral.
Rapat logistik sampai senja, demi Pemilu 2024 yang katanya jujur dan adil. Pokoknya paket lengkap. Kalem, religius, rajin menabung, rapi, dan terlihat sangat layak dijadikan poster edukasi pemilih pemula.
Namun, kang, dongeng selalu punya halaman terakhir yang pahit. Tanggal 9 Februari 2026, DKPP turun tangan, bukan membawa bunga, tapi palu kehormatan.










