Ketiga, memperbesar penerimaan negara. Ini bisa dilakukan melalui kenaikan pajak tidak langsung, optimalisasi penerimaan komoditas, atau memanfaatkan windfall dari sektor energi dan batu bara. Namun tambahan penerimaan biasanya tidak cukup cepat untuk menutup lonjakan biaya energi.
Keempat, menambah utang. Ini adalah cara paling mudah secara fiskal. Pemerintah dapat membiayai tambahan beban melalui penerbitan surat utang negara. Tetapi jika defisit melebar terlalu jauh—misalnya menuju 3,5%–4% PDB—maka persepsi pasar terhadap disiplin fiskal Indonesia bisa terpengaruh.
Karena itu, ketika pemerintah mengatakan APBN tetap aman, biasanya maksudnya bukan bahwa struktur APBN sudah siap menghadapi minyak US$100, melainkan bahwa pemerintah siap melakukan kombinasi penyesuaian kebijakan.
Dengan tekanan sekitar Rp300 triliun, skenario realistis biasanya adalah kombinasi antara pemangkasan belanja sekitar Rp100–150 triliun, penyesuaian harga energi atau subsidi Rp50–100 triliun, serta tambahan utang Rp50–100 triliun.
Melalui kombinasi tersebut, defisit APBN bisa tetap dijaga agar tidak melonjak terlalu tinggi, sehingga secara statistik terlihat “aman”.
Jakarta, 9 Maret 2026
HAMDI PUTRA
Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)










