Ekonom Sebut Efisiensi Program Makan Bergizi Gratis Masih “Janggal” dan Tidak Optimal

/net.

FAKTANASIONAL.NET – Kebijakan pemerintah melakukan efisiensi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik tajam.

Meski pemerintah berhasil memangkas anggaran sebesar Rp20 triliun, angka tersebut dinilai terlalu kecil dibandingkan total anggaran jumbo sebesar Rp335 triliun yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN).

Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, menilai langkah efisiensi pemerintah secara umum sudah tepat, namun ia memberikan catatan khusus bagi program MBG yang dianggapnya masih belum optimal.

“Secara umum bagus, banyak pos-pos yang diefisienkan. Namun ada satu pos yang terasa masih janggal dan mengganjal, yaitu pos efisiensi MBG. Mengapa efisiensinya cuma Rp20 T? Itu gak sampai 10 persen dari total anggaran MBG yang sebesar Rp335 T,” ujar Noval kepada RMOL, Rabu (1/4/2026).

Potensi Penghematan Hingga Rp200 Triliun

Noval berpendapat, jika melihat nilai tambah yang dirasakan oleh penerima manfaat (para siswa), anggaran MBG seharusnya bisa ditekan jauh lebih dalam.

Menurut hitungannya, potensi penghematan bisa mencapai angka yang fantastis.

“Padahal dilihat dari segi nilai tambahnya yang tidak begitu signifikan mestinya MBG perlu diefisienkan jauh lebih besar lagi. Mestinya penghematannya bisa sampai Rp100T sampai Rp200T,” tegasnya.

Analisis “Non-Value Added Activity”

Lebih lanjut, Noval menjelaskan melalui pendekatan Activity-Based Management (ABM).

Ia mengategorikan MBG sebagai aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah signifikan bagi negara maupun penerima manfaat.