“Pak Harto sangat teliti, sabar dan mau mendengar. Dia menyelidiki secara detail asal usul, karakter, kepribadian, kemampuan dari figur-figur yang akan dipilihnya. Setiap kebijakan yang diambil penuh dengan pertimbangan,” kata Wibowo saat dimintai pandangannya mengenai perbedaan gaya kepemimpinan Soeharto dan Prabowo.
Namun, ketika diminta menjelaskan lebih jauh mengenai perbedaan kedua tokoh tersebut, Wibowo memilih menyerahkan penilaian kepada publik. “Anda bisa simpulkan sendiri bagaimana perbedaan gaya dan karakter kepemimpinan mereka,” ujar wartawan senior yang dikenal dekat dengan Soeharto itu.
Lebih lanjut, Wibowo menjelaskan bahwa buku yang diterbitkan Kompas Gramedia ini ditulisnya tidak hanya mengulas sosok Soeharto dari sisi kepemimpinan dan spiritualitas. Buku tersebut juga menawarkan pembacaan terhadap kondisi Indonesia saat ini melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dipadukan dengan perspektif budaya Jawa.
Melalui pendekatan tersebut, penulis mengkaji berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan bangsa Indonesia, sekaligus menelaah karakter kepemimpinan para presiden RI, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto.
Pada bagian akhir, buku yang diluncurkan bertepatan dengan hari kelahiran Soeharto ini, mengangkat refleksi mengenai falsafah kepemimpinan Jawa dan nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari perjalanan politik Nusantara. Perspektif tersebut ditawarkan sebagai bahan renungan untuk memahami berbagai tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan dinamika geopolitik global.
Wibowo berharap gagasan yang dituangkan dalam bukunya dapat menjadi referensi bagi para pemimpin dalam merumuskan kebijakan dan menjalankan pemerintahan. “Kami rasa apa yang ada dalam buku ini bisa menjadi masukan bagi pemimpin kita saat ini dalam mengambil kebijakan dan menjalankan kepemimpinannya,” pungkasnya.











