Pastikan Penanganan Darurat Gempa Sulawesi Tengah Berjalan Optimal, Kepala BNPB Serahkan Bantuan di Sigi dan Tempat Ibadah Sementara

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., (baju rompi tundra) memimpin rapat koordinasi dalam rangka penanganan tanggap darurat bencana gempabumi di Pos Lapangan Kantor Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (19/6).

Yansen warga Desa Kamamora b, Kecamatan Nokilalaki mengungkapkan rasa terima kasih saat Kepala BNPB menyempatkan berdialog saat mengunjungi rumah yang terdampak gempa.

“Alhamdulillah, saya bersyukur pak ada tenda BNPB, kalo kemarin ada angin masuk dingin sampai ke dalam, sekarang sudah lebih nyaman,” kata Yansen.

Namun demikian, Suharyanto menegaskan bahwa tinggal ditenda hanya sementara. Bagi para warga yang rumahnya rusak akibat bencana akan mendapatkan bantuan stimulan dengan skema rumah rusak ringan 15 juta, rusak sedang 30 juta dan rusak berat 60 juta. Lebih lanjut untuk rumah rusak berat, BNPB akan menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH). Bantuan DTH ini diberikan kepada keluarga yang rumahnya rusak berat dan memilih untuk menyewa rumah atau tinggal di hunian kerabat mereka. Pemerintah pusat melalui BNPB menyediakan DTH sampai hunian tetap (Huntap) mereka selesai dibangun.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan hasil asesmen lapangan, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat gempa bumi yang terjadi pada Selasa (16/6). Kaji cepat sementara mencatat terdapat 3 orang meninggal dunia. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, korban pertama meninggal dunia saat bencana terjadi akibat serangan jantung yang dipicu situasi darurat pascagempa. Selanjutnya, korban kedua meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Torabelo Sigi pada Rabu (17/6) akibat luka yang diderita pascagempa. Sementara itu, korban ketiga dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (18/6) dini hari saat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bala Keselamatan (BK) Palu.

Gempa Susulan

Gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,7 terjadi pada Selasa (16/6) pukul 11.27 WITA dengan pusat gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan menyebabkan kepanikan masyarakat.

Hingga Kamis (18/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 703 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 5,2 dan terkecil 1,3, dengan 25 kejadian di antaranya masih dirasakan masyarakat. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga masih memilih bertahan di tenda maupun lokasi pengungsian sementara karena khawatir terhadap potensi gempa susulan.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 17 hingga 23 Juni 2026. Penetapan status tanggap darurat ini menjadi dasar bagi percepatan mobilisasi sumber daya, dukungan logistik, serta koordinasi lintas sektor dalam penanganan dampak bencana.

Sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan darurat di lapangan, BNPB terus melakukan pendampingan kepada BPBD Kabupaten Sigi serta menyalurkan bantuan logistik berupa tiga unit tenda pengungsi, 50 unit tenda keluarga, 150 paket sembako, 150 lembar matras, 150 lembar selimut, dan 100 unit kasur lipat.

Bantuan logistik dan permakanan juga mendapatkan tambahan berupa sembako 200 paket, paket snack anak-anak 200 paket, _kids ware_ 50 paket, tenda keluarga 300 unit, matras 300 lembar, kasur lipat 100 lembar, selimut 100 lembar dan tenda untuk tempat ibadah sementara 10 unit.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak dan masih berada di lokasi pengungsian. Hingga berita ini diturunkan, petugas BNPB masih ada di lokasi kejadian untuk memberikan pendampingan dalam upaya percepatan penanganan darurat bencana.

Langkah Rekonstruksi Pascabencana

Di sisi lain, personel TNI dan Polri bersama relawan dan unsur terkait terus bekerja di lapangan untuk membantu pembersihan puing bangunan, distribusi bantuan logistik, pendirian tenda pengungsian, serta mendukung berbagai kegiatan operasional penanganan darurat. Sinergi seluruh pihak menjadi faktor penting dalam memastikan proses penanganan berjalan cepat, tepat, dan efektif.

Pemerintah daerah bersama BPBD dan berbagai unsur terkait juga terus melakukan pendataan by name by address guna memperoleh data yang akurat mengenai korban terdampak, kerusakan bangunan, dan kebutuhan masyarakat. Pendataan yang detail dan terverifikasi menjadi landasan penting dalam penyaluran bantuan serta penyusunan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Melalui kunjungan kerja ini, BNPB menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi dampak bencana. BNPB juga memastikan seluruh upaya penanganan darurat dilakukan secara terpadu, sehingga kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi, rasa aman dapat segera pulih, dan proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.