NEGERI ini sebenarnya sudah cukup ruwet. Politik mulai panas, birokrasi masih suka muter-muter, rakyat sibuk mikir penggilingan pada untung dua triliun sebulan, eh, tiba-tiba muncul episode baru bikin mak-mak teriak “Astaghfirullahalazim.” Seorang guru agama Islam dan guru Pancasila, bukan suami istri bermesraan di hotel. Terekam dan videonya viral.
Akibat kelakuan duo pengajar moral itu membuat 700 siswanya tak terima. Malu lihat kelakuan guru model gituan. Mereka pun demo minta keduanya diusir dari sekolahnya.
Kedua guru itu ngajar di SMK Negeri 1 Mempawah Hilir. Sekitar 700 siswa sekolah tersebut menggelar aksi demonstrasi di sekolahnya, 5 Agustus 2026. Mereka bukan demo meminta Wi-Fi lebih kencang, bukan menuntut kantin menambah gorengan, apalagi protes karena PR terlalu banyak.
Mereka meminta dua oknum guru berinisial U dan S tidak lagi mengajar. Yang satu guru Agama Islam. Yang satu guru Pancasila. Astaga. Ini sekolah atau sidang Mahkamah Etik?
Aksi tersebut dipicu video viral yang diduga memperlihatkan keduanya melakukan tindakan tidak pantas di sebuah hotel di kawasan Sungai Pinyuh. Detail videonya tidak perlu kita bahas. Internet sudah terlalu rajin menjadi jaksa, hakim, sekaligus tukang sebar barang bukti.
Yang menarik justru profesinya. Guru Agama mengajarkan moral dan akhlak. Guru Pancasila mengajarkan nilai luhur bangsa. Tetapi sekarang keduanya justru membuat 700 siswa mendadak belajar mata pelajaran baru, “Cara Menghadapi Guru yang Diduga Lupa Menjadi Teladan.”
Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) membuat kedua guru itu saling terintegrasi atas nama cinta terlarang. Muridnya setiap hari diajarkan soal moral dan cinta. Ternyata, mereka justru mengkhinati kesucian cinta. Duh, cinta-citaan jadinya, ups.
Para siswa meminta keduanya dipindahkan dan meminta Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat menyiapkan guru pengganti. Tuntutannya sederhana, “Kami ingin belajar dengan tenang.” Wajar.
Bagaimana anak-anak mau serius belajar tentang kejujuran kalau gurunya sendiri sedang menjadi bahan pembicaraan satu sekolah? Bagaimana belajar Pancasila kalau sila kedua mendadak terasa seperti materi remedial? “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”
Bukan, “Kemanusiaan yang Viral dan Membuat Sekolah Heboh.” Mohon maaf, ini satire. Jangan dimasukkan buku paket.







