Karhutla dan Tepung Singkong: Jangan Sampai Solusi Murah Menjadi Masalah Baru

Semua itu harus dijawab melalui kajian dan pengujian, bukan sekadar asumsi bahwa karena bahan dasarnya berasal dari singkong maka otomatis aman bagi lingkungan.

“Alami” tidak selalu berarti “tanpa risiko”.

Tepung Kering Jangan Pernah Dianggap Sama dengan Retardan, hal lain yang juga penting diluruskan adalah jangan sampai masyarakat salah memahami informasi tersebut.

Tepung singkong dalam bentuk kering bukan berarti bahan yang boleh dilempar atau ditebarkan langsung ke kobaran api.

Debu dari berbagai material berbasis pati dalam kondisi tertentu dapat menjadi mudah terbakar ketika terdispersi di udara.

Maka, kampanye pemanfaatan pati singkong harus disampaikan secara benar agar tidak berubah menjadi tindakan masyarakat yang justru membahayakan diri sendiri dan menjadi musibah ataupun menjadi petaka yang parah.

Pati singkong sebagai bahan baku teknologi pemadam adalah satu hal.

Tepung singkong dapur yang dicampur air adalah hal lain.
Keduanya tidak boleh disamakan.

Kalau Memang Efektif, Mari Buktikan Secara Terbuka

Tidak ada salahnya pemerintah, perguruan tinggi, BRIN, BPBD maupun lembaga terkait mengembangkan teknologi pemadam berbasis bahan lokal.

Justru ini peluang besar.
Indonesia memiliki sumber daya singkong yang melimpah. Jika benar pati singkong dapat dikembangkan menjadi bahan pemadam atau retardant yang efektif, murah, aman dan ramah lingkungan, tentu itu menjadi inovasi yang patut didukung.

Tetapi sebelum masuk ke lapangan, publik layak mendapatkan data pengujian yang transparan.
Bukan sekadar video api yang terlihat padam.

Harus ada data mengenai konsentrasi, efektivitas terhadap jenis vegetasi berbeda, ketahanan terhadap panas, kemampuan mempertahankan kelembapan, efektivitas terhadap gambut, kompatibilitas dengan pompa dan nozzle, serta dampak terhadap lingkungan.

Dan yang tidak kalah penting:
berapa biaya sebenarnya dibandingkan metode pemadaman yang sudah terbukti?
Jika ternyata lebih murah dan sama atau bahkan lebih efektif, tentu patut dikembangkan.

Tetapi jika belum terbukti, jangan buru-buru menjadikannya jawaban atas persoalan karhutla.
Karhutla Membutuhkan Data, Bukan Sekadar Narasi
Kita sedang menghadapi persoalan serius.

Asap mengganggu masyarakat. Aktivitas penerbangan bisa terdampak. Sekolah dapat terganggu. Kualitas udara menurun. Ekosistem rusak dan petugas di lapangan mempertaruhkan keselamatan.

Dalam kondisi seperti itu, setiap metode pemadaman harus memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Boleh murah. Boleh lokal. Boleh inovatif. Tetapi harus efektif dan aman.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya padam atau tidak padamnya api.

Yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia, keselamatan petugas, lingkungan dan keberhasilan operasi penanggulangan karhutla.
Maka pertanyaannya bukan:
“Apakah tepung singkong bisa dicampur dengan air?”
Tentu bisa.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apakah campuran tersebut benar-benar mampu memadamkan karhutla secara efektif, aman, terukur dan tidak menimbulkan masalah baru?”
Kalau jawabannya belum memiliki data yang cukup, maka jangan menjadikan eksperimen sebagai kebijakan.

Karhutla membutuhkan keberanian untuk berinovasi.
Tetapi lebih dari itu, karhutla membutuhkan keberanian untuk menguji, mengukur dan berkata jujur: mana yang terbukti efektif dan mana yang belum.(Van)