Ambisi MBG Jangan Sampai Menjadi Mesin yang Merusak Generasi Bangsa

Ambisi MBG Jangan Sampai Menjadi Mesin yang Merusak Generasi Bangsa/ilustrasi

Sebab program pemerintah bukan lomba membuat laporan keberhasilan.

Program pemerintah adalah kontrak kepercayaan dengan rakyat.

Orang tua menyerahkan sebagian kepercayaannya kepada negara ketika anak menerima makanan dari program MBG.

Mereka berhak percaya bahwa makanan tersebut telah melewati standar keamanan yang ketat.

Jika ternyata prosedur dilanggar, pengawasan lemah, distribusi terlambat, atau bahan makanan tidak ditangani dengan benar, maka yang rusak bukan hanya makanan.

Yang rusak adalah kepercayaan.

Karena itu, pemerintah perlu berani melakukan evaluasi tanpa kosmetik.

Jangan berhenti pada pencopotan petugas atau permintaan maaf setelah kejadian. Telusuri seluruh rantai persoalan: pengadaan bahan baku, standar pemasok, kompetensi pengelola, kebersihan dapur, pengendalian suhu, waktu memasak, pengemasan, transportasi, hingga makanan tiba di tangan siswa.

Setiap titik harus dapat diaudit.

Dan ketika terjadi insiden, transparansi tidak boleh dianggap sebagai ancaman terhadap citra pemerintah.

Justru keterbukaan adalah cara menyelamatkan program.

Masyarakat tidak membutuhkan narasi bahwa MBG sempurna. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang berani mengatakan: di sini ada kesalahan, ini penyebabnya, ini korbannya, dan ini yang kami perbaiki.

Lebih penting lagi, pemerintah tidak boleh gegabah menyimpulkan bahwa seluruh kasus keracunan berasal dari satu penyebab atau satu pihak.

Dugaan harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium dan investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab mencari kebenaran jauh lebih penting daripada mencari kambing hitam.

MBG sendiri bukan musuh. Bahkan gagasannya memiliki tujuan sosial yang besar: memastikan anak-anak mendapatkan asupan bergizi.

Tetapi niat baik tidak otomatis menghasilkan kebijakan yang baik.

Niat baik tanpa pengawasan dapat berubah menjadi kelalaian.

Dan kelalaian dalam urusan makanan anak bukan kesalahan administratif biasa.

Ia menyentuh tubuh manusia.

Menyentuh masa depan keluarga.

Menyentuh masa depan bangsa.

Karena itu, yang harus diakhiri bukan MBG semata. Yang harus diakhiri adalah budaya “yang penting tersalurkan”, budaya “yang penting target tercapai”, dan budaya menganggap insiden sebagai sesuatu yang dapat dilupakan setelah konferensi pers selesai.

Jika MBG ingin dikenang sebagai warisan kebijakan yang menyelamatkan generasi, pemerintah harus membuktikan bahwa keselamatan anak berada di atas ambisi statistik.

Jangan sampai sejarah mencatat sebuah ironi: negara menggelontorkan anggaran besar untuk memperbaiki gizi anak, tetapi gagal memastikan makanan itu aman.

Bangsa yang serius membangun generasi tidak boleh bermain-main dengan sepiring makanan.

Sebab bagi pemerintah, itu mungkin hanya satu porsi MBG.

Bagi seorang anak, itu adalah makanan yang masuk ke tubuhnya.

Dan bagi orang tuanya, itu adalah kepercayaan yang mereka titipkan kepada negara.[dit]