KLAIM Presiden Prabowo bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah “berhasil 99,99 persen” tidak didukung oleh data yang komprehensif, tidak mencerminkan cakupan riil yang masih bertahap, serta mengabaikan berbagai persoalan kualitas, akuntabilitas, dan evaluasi yang justru menentukan keberhasilan kebijakan publik.
Pernyataan tersebut lebih tepat dibaca sebagai retorika politik daripada kesimpulan berdasarkan bukti, dan karena itu perlu diluruskan agar diskusi publik tidak terbatas pada angka simbolik yang menutup ruang evaluasi substantif.
Dalam kebijakan publik, keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat program dijalankan atau seberapa sering narasi keberhasilan diulang, melainkan dari perubahan nyata yang dapat diukur. Pada titik ini, MBG masih berada pada fase implementasi awal dan perluasan bertahap.
Cakupan penerima belum menjangkau seluruh kelompok sasaran nasional, baik dari sisi jumlah maupun wilayah. Fakta bahwa masih banyak anak yang belum menerima manfaat MBG dengan sendirinya membantah klaim keberhasilan yang hampir sempurna tersebut.
Keberhasilan yang hampir mutlak mensyaratkan keterjangkauan yang hampir total, sesuatu yang secara faktual belum terjadi.
Lebih mendasar lagi, distribusi makanan tidak identik dengan keberhasilan program gizi. Output berupa porsi makan hanyalah langkah awal, bukan tujuan akhir.
Ukuran keberhasilan seharusnya bertumpu pada hasil dan dampak. Apakah terjadi penurunan stunting dan masalah gizi lainnya? Apakah ada perbaikan daya tahan tubuh anak? Apakah kehadiran dan konsentrasi belajar meningkat? Serta apakah program ini benar-benar memperbaiki kualitas sumber daya manusia?
Hingga kini, belum tersedia laporan evaluasi nasional berbasis baseline–endline atau data longitudinal yang dapat membuktikan bahwa indikator-indikator tersebut telah tercapai secara luas, apalagi hingga 99,99 persen.
Klaim keberhasilan yang terlalu dini juga mengabaikan persoalan kualitas dan keamanan pangan yang justru krusial dalam program gizi massal. Temuan-temuan di lapangan terkait keluhan kualitas makanan, standar higienitas, hingga kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan MBG menunjukkan bahwa tantangan implementasi tidak bisa ditutup dengan narasi sukses.
Dalam konteks program yang menyasar anak-anak, satu kasus saja sudah cukup menjadi alarm serius. Keberhasilan sejati menuntut sistem pengawasan yang ketat, standar yang konsisten, dan mekanisme koreksi yang terbuka, bukan pengaburan masalah melalui klaim statistik absolut tak berdasar.
Dari sisi tata kelola, MBG adalah program dengan penggunaan anggaran besar dan jangka panjang. Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya juga harus mencakup efisiensi dan akuntabilitas anggaran. Berapa biaya per porsi yang dikeluarkan negara? Seberapa besar manfaat gizi yang dihasilkan dari setiap rupiah anggaran? Bagaimana mekanisme pengadaan dan distribusinya?
Tanpa audit kinerja dan analisis biaya-manfaat yang transparan, klaim keberhasilan menjadi rapuh dan berpotensi menutup ruang perbaikan desain program.
Program publik berskala nasional tidak cukup dinilai dari niat baik dan kecepatan eksekusi, melainkan dari ketepatan penggunaan uang rakyat.











